Menariknya, fokus investasi Danantara kini tidak lagi melulu terjebak pada sektor berat konvensional seperti komoditas atau infrastruktur kaku, melainkan mulai bergeser ke industri kreatif yang jauh lebih dinamis. Pemerintah secara blak-blakan membidik integrasi aset negara dengan penyelenggaraan berbagai agenda besar berskala internasional.
“Peluang pertumbuhan ekonomi baru yang dapat didorong oleh Danantara, termasuk penguatan sektor pariwisata melalui penyelenggaraan event olahraga (sport tourism), konser musik, hingga industri kreatif yang mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan meningkatkan perputaran ekonomi nasional,” lanjut Teddy.
Strategi komparatif ini dinilai sangat beralasan. Belajar dari tren global di mana negara-negara tetangga mampu meraup devisa triliunan rupiah hanya dari eksklusivitas konser musisi dunia, Danantara tampaknya ingin mengambil posisi strategis sebagai penyokong dana sekaligus agregator utama infrastruktur hiburan di tanah air.
Baca Juga:Asing Serbu Global Bond Danantara, Mensesneg Ungkap 3 Jurus Pengunci Stabilitas EkonomiSikat PKS Nakal! Kementan Warning 139 Pabrik yang Mainkan Harga TBS Sawit di Masa Transisi Danantara
Sektor ini diyakini jauh lebih instan dalam memutar roda ekonomi lokal dan menciptakan lapangan kerja baru yang padat karya bagi generasi muda.
Ujian Nyata Transparansi di Lapangan
Kendati visi yang diusung sangat progresif dan menjanjikan, tantangan riil di lapangan tetap membayangi pergerakan raksasa investasi ini. Transformasi super-cepat terhadap ratusan entitas BUMN berpotensi memicu guncangan internal, mulai dari penataan ulang manajemen sumber daya manusia (SDM) hingga potensi tumpang tindih regulasi di tingkat kementerian teknis.
Publik kini menanti, sejauh mana Danantara mampu mengeksekusi arahan taktis Presiden Prabowo tanpa terjebak dalam pusaran birokrasi baru. Menjadikan kekayaan bangsa sebagai mesin pertumbuhan berkelanjutan menuntut akuntabilitas tingkat tinggi.
Pembubaran dan penggabungan ratusan entitas BUMN tersebut harus dipastikan murni demi kemakmuran rakyat, bukan sekadar mutasi angka di atas kertas laba-rugi.(*)
