CIREBONINSIDER.COM — Momentum Hari Jadi Cirebon ke-599 yang memuncak pada Juni 2026 membuktikan diri bukan sekadar panggung perayaan tahunan yang riuh oleh prosesi adat ritual.
Di balik sakralnya bait-bait sejarah yang bergema, terselip sebuah refleksi radikal dan target besar untuk membawa Kota Udang melompat lebih tinggi.
Penyatuan dua momentum besar—sidang paripurna legislatif di Griya Sawala dan pembacaan babad di keraton—menegaskan bahwa filosofi kuno “Manunggal Winangun Caruban” kini telah bertransformasi menjadi instrumen kerja taktis penumpas ego sektoral daerah.
Baca Juga:Hari Jadi Ke-598, Wali Kota Cirebon Apresiasi Keraton Kanoman Gelar Pembacaan Babad CirebonDilema Disdukcapil Kota Cirebon, Inovasi Akta Anak Nikah Siri Terganjal Krisis Anggaran 2026
Pesan kuat mengenai penyelarasan antara pembangunan modern dan akar sejarah ini menggema beruntun sejak Rapat Paripurna Istimewa di Gedung DPRD Kota Cirebon, Selasa (16/6/2026), hingga prosesi Pembacaan Babad Cirebon di Kesultanan Kanoman, Rabu (17/6/2026).
Hadir mewakili Wali Kota Cirebon Effendi Edo, Sekretaris Daerah Kota Cirebon Iing Daiman menegaskan bahwa sejarah luhur ini bukanlah arsip usang yang statis, melainkan sebuah blueprint (cetak biru) pembangunan yang meletakkan moralitas di atas sekadar fisik infrastruktur.
Menolak Sekadar Slogan: Membedah DNA ‘Caruban’
Tema “Manunggal Winangun Caruban” dipilih pada tahun 2026 ini dengan bobot filosofis yang sangat berat jika hanya berakhir sebagai pajangan spanduk kota.
Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Harry Saputra Gani, S.H., menjabarkan bahwa frasa tersebut merefleksikan kembali memori kolektif dan struktur genetik asli (DNA) masyarakat Cirebon yang sejak berabad-abad lalu terbukti mampu hidup rukun dalam harmoni multi-etnis—mulai dari elemen Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa, hingga kultur pesisir Nusantara.
Senada dengan pandangan legislatif, Penjabat (Pj) Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, S.A.P., M.Si., mengonversi makna taktis tersebut ke dalam sistem tata kelola pemerintahan modern yang adaptif di tengah derasnya transformasi global. Menurutnya, pemaknaan sejarah tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu.
”Manunggal berarti persatuan, Winangun artinya membangun, dan Caruban adalah identitas peleburan budaya kita. Dalam tata kelola pemerintahan, ini bermakna kolaborasi mutlak antara birokrasi, DPRD, penegak hukum, swasta, hingga masyarakat tanpa ada lagi ego sektoral yang menghambat pelayanan publik,” tegas Effendi Edo.
