CIREBONINSIDER.COM – Sektor pertanian di wilayah pesisir Kabupaten Cirebon, khususnya Kecamatan Kapetakan, tengah berada di persimpangan jalan.
Di satu sisi, kawasan ini dituntut menjadi penopang target ketahanan pangan surplus. Di sisi lain, roda ekonomi desa dari sektor agraria ini dihantui krisis pemuda tani serta ketergantungan alat mesin pertanian (alsintan) dari luar daerah yang mulai mengacaukan siklus tanam.
Kondisi krusial tersebut diulas tajam oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Dapil XII (Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu) dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhammad Asyrof Abdik, S.Hub.Int.
Baca Juga:Adopsi Teknologi Arkansas, Indramayu Targetkan Panen 10 Ton Per Hektar Lewat Pertanian Modern PM-AASCirebon-Yangjiang Perkuat Sister City: Fokus Hilirisasi Perikanan dan Pertanian di Kawasan Rebana
Saat diwawancarai seusai menghadiri agenda Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Tahun Anggaran 2026 di MI Hidayatul Mubtadi’in, Desa Pegagan Kidul, Kecamatan Kapetakan, Kamis (21/5/2026), Asyrof membongkar sejumlah benang kusut pertanian lokal. Mulai dari hilangnya gairah anak muda hingga problem teknis masa tanam.
Ironi Lahan Luas, Pemuda Kapetakan Ogah Kelola Aset Pertanian Desa
Kepada awak media, Asyrof menyebutkan mayoritas sumber daya manusia (SDM) pertanian di Cirebon dan Indramayu saat ini sudah memasuki usia senja (sepuh).
Jika tidak ada intervensi konkret, lambat laun profesi petani lokal terancam punah dan stabilitas ekonomi perdesaan dipastikan bakal tergerus.
Fakta di lapangan menunjukkan, banyak pemuda dari Kapetakan yang lebih memilih bermigrasi menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang atau Korea Selatan karena faktor jaminan pendapatan yang dinilai jauh lebih menjanjikan.
”Sawah kita luas, lahannya banyak, tapi jangan sampai suatu saat petaninya justru tidak ada. Di beberapa kabupaten/kota di Jawa Barat, gejalanya sudah terlihat, para pemuda kini kurang tertarik lagi mengelola aset yang ada di desa mereka,” ungkap Asyrof.
Ia menegaskan, hilangnya ketertarikan anak muda adalah indikator nyata bahwa sektor pertanian saat ini dianggap belum mampu menjamin kesejahteraan ekonomi. Solusi jangka panjangnya adalah menggeser paradigma pertanian tradisional ke arah modernisasi berbasis teknologi.
”Kita harus dorong keterlibatan anak muda lewat transformasi teknologi. Di Vietnam atau Thailand, anak mudanya mau bertani karena sudah modern; memupuk pakai drone dan panen menggunakan mesin combine. Pendekatan teknologi seperti ini yang bisa mengembalikan gairah mereka,” lanjut legislator muda tersebut.
