Di Astana Gede Kawali, tempat suci peninggalan Kerajaan Galuh, Dedi Mulyadi kembali menegaskan dukungannya terhadap perubahan nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh.
Namun, ia menitipkan pesan kuat bahwa perubahan nama harus dibarengi dengan perubahan kualitas pelayanan publik.
“Nilai deudeuhan, welasan, dan asihan (kasih sayang) jangan hanya jadi pajangan sejarah. Implementasinya jelas: tidak boleh ada rakyat yang sakit tidak terobati, tidak boleh ada anak yang tidak bisa sekolah,” tegas Dedi di hadapan ribuan warga.
Baca Juga:Napak Tilas Hari Jadi Ke-543 Kabupaten Cirebon, Bupati Imron: Jangan Lupakan SejarahMenggugat Lupa: Sejarah 669 Masehi di Balik Keputusan Dedi Mulyadi Tetapkan Hari Tatar Sunda
Simpul Ekonomi Lokal
Kirab Budaya Tatar Sunda yang akan berakhir di Cirebon ini membuktikan bahwa kegiatan kolosal mampu menjadi pemantik ekonomi. Ribuan UMKM di sepanjang rute Sumedang dan Ciamis mendapatkan “durian runtuh” dari antusiasme warga yang menonton.
Melalui momentum Milangkala Tatar Sunda ini, Jawa Barat seolah ingin menunjukkan bahwa membangun daerah tidak melulu soal beton dan aspal, melainkan tentang menjaga ruh kebudayaan sambil memastikan fungsi pengawasan pemerintah tetap berjalan di garis terdepan.(*)
