Kopdes Solusi Kritis Atasi Ironi Migrasi Urban
Dalam sorotan yang lebih mendalam, Wamenkop Farida menyinggung fenomena ironis migrasi tenaga kerja desa ke kota.
Menurutnya, keberadaan koperasi desa yang kuat harus menjadi solusi utama, mencegah masyarakat desa berebut lapangan kerja di perkotaan.
”Semakin banyak anggota, semakin besar dampak positif yang dihasilkan,” ujarnya. Oleh karena itu, ia berharap pengalaman magang ini dapat menjadi “batu lompatan” bagi pengurus untuk lebih inovatif, mengembangkan usaha Kopdes yang pada akhirnya mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang layak di desa sendiri.
Baca Juga:Jaminan Rp40 Triliun ke Himbara: Menkeu Pastikan Revisi Aturan Dana Kopdes Merah Putih Tuntas Minggu DepanHimbara Tolak Skema Pembiayaan Kopdes Rp216 T? Indef: Jaminan Dana Desa Belum Cukup!
”Ujung tombak dari Kopdes/Kel ini adalah Bapak-Ibu semuanya, sehingga kita sangat berharap jangan jadikan ini beban tapi jadikan ini tantangan,” tutup Farida.
Bibit Unggul dan Replikasi Proses Modern
Di tempat yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Kemenkop, Desty Anna Sari, menambahkan bahwa kegiatan magang ini merupakan upaya inkubasi dan inovasi.
Tujuannya adalah memperkuat ekosistem Kopdes/Kel Merah Putih melalui praktik langsung dan membangun jejaring dengan koperasi sukses seperti Kopontren Al-Ittifaq.
Sementara itu, Presiden Direktur Al Ittifaq, Irpan Sadikin, menyebut para peserta sebagai “bibit unggul masa depan koperasi Indonesia”. Irpan berharap pengurus Kopdes/Kel Merah Putih mampu mereplikasi proses modernisasi yang telah dijalankan di Al Ittifaq.
”Bukan hanya ekonomi desanya saja yang bergerak, tapi ekonomi seluruh masyarakat di sekitar koperasi juga ikut bergerak,” tutup Irpan, optimis bahwa keberhasilan koperasi akan membawa dampak luas.(*)
