CIREBONINSIDER.COM – Badan Gizi Nasional (BGN) merespons cepat insiden tragis yang melibatkan mobil Sarana Pengangkut Pangan Gizi (SPPG) di SDN 01 Kalibaru.
Kecelakaan ini mengakibatkan 18 korban luka, termasuk 15 siswa dan 3 guru, memicu guncangan publik terhadap keamanan logistik program “Makan Bergizi Gratis” (MBG) yang berskala nasional.
BGN tidak hanya berfokus pada permintaan maaf. Sebagai respons struktural, BGN mengklaim telah memicu Audit Total Armada dan penerapan standar keamanan logistik yang jauh lebih ketat. Termasuk pemasangan GPS tracking dengan sensor kecepatan di seluruh armada mereka.
Baca Juga:HOROR PAGI: Mobil Logistik MBG Terobos Pagar SDN 01 Cilincing, 21 Korban Luka! Sopir Akui Salah Injak PedalPrabowo Bantah Kritikus! Klaim MBG Tembus 49 Juta Porsi Harian: Operasi Logistik Akbar Sebanding Negara Maju
Klaim tegas ini disampaikan Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, yang menegaskan bahwa program MBG akan terus berjalan tanpa hambatan operasional. Meski demiian harus didukung dengan revisi Standar Operasional Prosedur (SOP) besar-besaran.
Respons Kemanusiaan: Korban Ditanggung 100% Biaya dan Fasilitas VVIP
BGN menyatakan telah mengaktifkan Respons Kemanusiaan Zero Tolerance segera setelah insiden terjadi. Sony Sonjaya memaparkan bahwa seluruh 18 korban yang terluka telah ditangani secara intensif.
”Kami menjamin penanggungan biaya perawatan 100%, termasuk penanganan trauma dan pemulihan jangka panjang seperti sesi terapi. Seluruh korban ditempatkan di fasilitas terbaik (Kelas 1 atau VVIP) di RSUD setempat. Ini adalah bentuk akuntabilitas tanpa kompromi kami,” ujar Sony.
Selain dukungan medis, BGN juga langsung menerjunkan Tim Pendamping Psikososial (TPP) untuk memberikan dukungan mental dan trauma healing kepada korban, keluarga, serta pihak sekolah.
Aktivasi Protokol Logistik Darurat: Klaim Operasional Tetap Solid
Pernyataan BGN bahwa “operasional dan pelayanan MBG tidak terhambat” menjadi sorotan kritis. Program berskala nasional ini diklaim tetap solid, didukung oleh langkah cepat mitigasi internal.
”Ini adalah insiden yang terisolasi. Untuk memastikan tidak ada satu pun anak yang terlewatkan makanannya, kami segera mengaktifkan Protokol Logistik Darurat (PLD). Kami mengalihkan pasokan menggunakan armada cadangan dan rute terdekat,” jelas Sony.
Ia menegaskan, ketahanan operasional program terletak pada perencanaan logistik berlapis.
”Kejadian ini adalah pelajaran pahit. Namun, kami berkomitmen: Operasional distribusi dan kualitas gizi di seluruh lokasi tetap berjalan solid. Insiden ini tidak meruntuhkan program, tetapi justru memperkuat janji kami,” tegas Sony.
