NATARU 2025/2026: 119,5 Juta Pemudik Bakal Picu Kemacetan Parah, Begini Strategi Kemenhub

Nataru-2025-2026
Diprediksi sebanyak 119,5 juta pemudik bakal picu kemacetan parah pada Nataru 2025/2026. Kemenhub gelar strategi \'Buffer Zone\' Massif & Contraflow \'Cerdas\'. Foto: Pixabay.com

​CIREBONINSIDER.COM – Alarm kepadatan lalu lintas nasional berbunyi keras menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi 119,5 juta orang akan bergerak, sebuah ledakan mobilitas yang setara hampir setengah (42,91%) dari total penduduk Indonesia.

​Angka masif ini memaksa pemerintah menyiapkan strategi mitigasi ekstrem di tiga sektor (darat, laut, udara).

Baca Juga:Darurat Lalu Lintas Jabar: Korban Laka 45 Kali Lipat Bencana, KIR Wajib Bengkel Resmi Mulai 2026Pemkab Cirebon Siapkan Sistem Lalu Lintas Terpadu, Tata Kawasan Wisata Trusmi Secara Bertahap

Fokus utama: menerapkan ‘Buffer Zone’ secara masif di titik-titik krusial (rest area & pelabuhan) dan sistem penundaan perjalanan situasional untuk mencegah gridlock total.

Tantangan Krusial: Dominasi ‘Mengerikan’ Transportasi Pribadi (>60%)

​Data Kemenhub menunjukkan akar masalah utama manajemen Nataru adalah ketergantungan ekstrem pada moda transportasi pribadi, yang menembus lebih dari 60% dari total pergerakan. ​Secara rinci:

– ​Mobil Pribadi: 51,12 juta orang (42,78%), diproyeksikan menjadi penyumbang kemacetan absolut di seluruh koridor utama.

– ​Sepeda Motor: 22,00 juta orang (18,41%), merupakan risiko tertinggi terhadap keselamatan di jalur utama dan arteri.

​Total 73,12 juta orang akan tumpah ruah di jalan raya. Sementara, transportasi publik seperti Bus (9,76 juta), Pesawat (4,27 juta), dan Kapal Laut (2,62 juta) berada jauh di bawah dominasi kendaraan pribadi.

Strategi Mitigasi Kemenhub: Memecah Kepadatan di Jalur Darat

​Antisipasi pemerintah paling dipertajam pada sektor darat mengingat tingginya volume kendaraan. Strategi yang disiapkan berorientasi pada pemecahan kepadatan di titik-titik krusial dan penyeimbang arus lalu lintas:

– ​Aktivasi Buffer Zone dan Delay System: Penyiapan zona penyangga di seluruh rest area jalan tol utama.

Baca Juga:Dari Pekan Sastra Cirebon 2025, Dorong Ruang Kreatif TumbuhFKSM 2025 di Cirebon, Rentang Lawang Buka Ruang Dialog Lintas Disiplin dan Budaya

– Sistem Penundaan (delay system) akan diterapkan secara ketat di pintu masuk/keluar untuk memperketat kontrol volume kendaraan masuk ke area padat.

– ​Rekayasa Contraflow & One-Way Adaptif: Rencana contraflow dan one-way akan diaktifkan berdasarkan data real-time kepadatan lapangan, menjadikannya mekanisme pemecah arus yang paling dinamis.

​Kesiapan Sektor Laut dan Udara

​Di sektor laut, fokus diarahkan pada jalur penyeberangan vital Jawa-Sumatra (Merak-Bakauheni) dan Jawa-Bali (Ketapang-Gilimanuk). Kemenhub menyiapkan 69 kapal navigasi dan patroli, serta mengaktifkan Buffer Zone di wilayah sekitar pelabuhan padat sembari menyiapkan pelabuhan alternatif.

​Di sektor udara, manajemen fokus pada pengoptimalan jam operasional bandara dan penambahan kapasitas penerbangan untuk 4,27 juta pemudik pesawat, setelah melakukan pemeriksaan kelaikan (ramp check) terhadap 368 unit pesawat yang tersedia.

0 Komentar