Benturan Kultur di Pesisir Cirebon saat Ki Gede Bungko Meredam "Kerasnya" Ajaran Tokoh Pendatang Timur Tengah

Benturan Kultur di Pesisir Cirebon saat Ki Gede Bungko Meredam "Kerasnya" Ajaran Tokoh Pendatang Timur Tengah
Ilustrasi Laksamana Ki Gede Bungko berdiri di pesisir Cirebon dengan latar belakang barisan penari tradisional Angklung Bungko dan kapal layar nelayan. Foto: Ilustrasi/AI

​Berkaca dari hal itu, Mbah Kuwu mengambil langkah preventif saat Syekh Magelung Sakti tiba di tanah Cirebon. Menurut Ustadz Wahyu, kuncen situs Ki Buyut Krayunan dan Nyi Selawe di Desa Grogol, Kapetakan, Cirebon, penyambutan hangat terhadap tokoh-tokoh pendatang tersebut bukan sekadar tradisi menyambut tamu.

​”Hal ini tidak hanya untuk mengenalkan kultur budaya lokal kepada pendatang baru, tetapi juga sebagai langkah taktis untuk mencegah kejadian serupa tidak terulang,” ujar Ustadz Wahyu, merujuk pada potensi gesekan budaya yang sempat terjadi sebelumnya.

​Sosok Mbah Kuwu sendiri merupakan figur pribumi yang sangat mengenal kultur budaya tanah kelahirannya, ditambah wawasannya yang luas mengenai dunia Timur Tengah saat dirinya berguru sekaligus menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Makkah.

Baca Juga:Gelisah Eksistensi Angklung Bungko Cirebon Kini Meredup, Simak Gagasan Pelestarian Generasi Muda Pesisir IniKisah Veteran Majapahit: Ki Gede Bungko, Panglima Laut Cirebon & Misteri Angklung Purba 600 Tahun

​Peran Kritis Ki Gede Bungko: Menyelamatkan Martabat Pesisir

​Melihat gejolak sosial dan ancaman moral yang ditimbulkan oleh kelompok Jaka Supetak dan Jaka Pekik di wilayah pesisir barat (sekitar Kapetakan hingga Bungko), otoritas Cirebon tidak tinggal diam.

​Tugas pemulihan keamanan, moral, dan akidah ini diemban oleh sang Laksamana sekaligus penguasa Desa Bungko, Ki Gede Bungko (Jakataruna).

– ​Operasi Ketegasan di Darat: Jika di laut Ki Gede Bungko menumpas perompak Luwu Ijo dan menghadapi armada Portugis, di darat ia memimpin penertiban terhadap kelompok Jaka Supetak dan Jaka Pekik yang meresahkan. Berkat ketegasan tersebut, kedua tokoh asing itu akhirnya tunduk dan bersedia menjadi murid Pangeran Cakrabuana, yang saat itu memangku jabatan sebagai Kuwu sekaligus ulama kharismatik.

– ​Filosofi di Balik Mitos Buaya Putih: Dalam perkembangan folklor lokal, kepatuhan Jaka Supetak dan Jaka Pekik pasca-takluk disimbolkan secara mistis sebagai penjaga kali berwujud buaya putih. Simbol ini sebenarnya merupakan sebuah analogi mendalam agar kedua tokoh tersebut mau belajar lebih tekun, “menyelam” lebih dalam, serta meresapi esensi ajaran Islam yang damai dan kultural di Cirebon.

– ​Transformasi Konflik Menjadi Kesenian: Sisa-sisa ketegangan dari pertempuran dan gesekan budaya ini diabadikan secara jenius oleh masyarakat setempat. Benturan fisik dan ketegangan saat mematahkan pengaruh kelompok tersebut direfleksikan dalam gerakan Tari Ayam Alas dan Tari Bebek Ngoyor, serta diabadikan dalam instrumen sakral Angklung Bungko.

0 Komentar