Ketika 5 Desa di Cirebon Tumpah Ruah Satukan Barisan di Tradisi Ngunjung Syekh Magelung Sakti

Ketika 5 Desa di Cirebon Tumpah Ruah Satukan Barisan di Tradisi Ngunjung Syekh Magelung Sakti
Atraksi penari tradisional dan pengawalan aparat dalam arak-arakan tradisi Ngunjung lima desa menuju Makbarrah Syekh Magelung Sakti, Cirebon. Foto: Istimewa/ Doc CI

CIREBONINSIDER.COM ​- Pemandangan tidak biasa tersaji di jalur Pantura Cirebon bagian utara. Sejak pagi buta, denyut nadi wilayah Kecamatan Kapetakan berdetak lebih kencang.

​Bukan karena aktivitas industri atau pasar, melainkan sebuah ikatan kultural sakral: Tradisi Ngunjung.

​Sebanyak lima desa—Dukuh, Pegagan Kidul, Pegagan Lor, Kroya, dan Karanganyar—secara serempak bergerak bersama menuju satu titik nadi sejarah, Makbarrah Syekh Magelung Sakti, Desa Karangkendal, Kabupaten Cirebon.

Baca Juga:​Tradisi Ngunjung Karangkendal Cirebon: Asal-Usul, Rujak Wuni, dan Haul Syekh Magelung SaktiSelusur 'Silicon Valley Purba' di Cirebon,  Haul Syekh Magelung Sakti hingga Uniknya Tradisi Ngunjung

​”Tradisi Ngunjung bukan sekadar ritual seremonial tahunan. Ini adalah identitas dan lem perekat sosial yang merajut persatuan lintas wilayah,” tegas Sekretaris Desa Dukuh, Sopandi, di sela-sela kegiatan.

​Anatomi Tradisi: Lautan Manusia, Tablig, hingga Atraksi Angklung Bungko

​Iring-iringan dipimpin langsung oleh para kuwu, perangkat desa, hingga ketua RT dan RW setempat. Mereka berjalan kaki memadati akses jalan utama, menyatu dengan ribuan warga yang tumpah ruah membentuk barisan panjang.

​Atmosfer hajatan rakyat ini semakin hidup berkat kehadiran kesenian tradisonal autentik:

– ​Angklung Bungko dan Kuda Ronggeng menghentak sepanjang rute perjalanan.

– ​Barisan drumband pelajar menambah semarak kolaborasi lintas generasi.

– ​Ziarah, pembacaan tahlil, dan doa bersama dipanjatkan sebagai wujud syukur serta ikhtiar memohon keselamatan kepada Tuhan.

​Di balik kemeriahannya, tradisi ini memuat warisan dakwah Islam masa lampau. Syekh Magelung Sakti dikenal sebagai figur sentral penyebaran Islam di Cirebon utara, menjadikan momen ngunjung sebagai instrumen silaturahmi akbar yang terawat selama ratusan tahun.

​Benteng Pengamanan dan Sinergi Muspika Kapetakan

​Aksi massa berskala besar ini terkawal ketat oleh jajaran Muspika Kecamatan Kapetakan. Personel Polsek, Koramil, serta Bhabinkamtibmas dan Babinsa dari masing-masing desa bahu-membahu menjaga kondusifitas.

​Kehadiran aparat penegak hukum memastikan ribuan peziarah dan penonton dapat menikmati prosesi adat dengan aman, tertib, dan lancar tanpa hambatan di jalur lalu lintas.

Baca Juga:Misteri Rambut Syekh Magelung Sakti, Ditinggal Misterius Sunan Gunung Jati hingga Sayembara Nyimas Gandasari​Tradisi Ngunjung Karangkendal Cirebon: Asal-Usul, Rujak Wuni, dan Haul Syekh Magelung Sakti

​Merawat Warisan Leluhur di Tengah Gempuran Modernitas

​Eksistensi tradisi lokal menghadapi tantangan zaman yang kian dinamis. Sekdes Dukuh, Sopandi, mengingatkan pentingnya peran aktif generasi muda agar warisan ini tidak luntur ditelan modernitas.

​”Perlu keterlibatan aktif anak muda, dokumentasi sejarah yang rapi, serta pengemasan edukatif agar tradisi ini terus bernyawa,” tambahnya.

0 Komentar