CIREBONINSIDER.COM — Nama Nyimas Ayu Gandasari—atau yang memiliki sederet nama agung seperti Nyai Mas Ratu Gandasari, Nyai Mas Panguragan, hingga Nyai Mas Sapta Rengga—telah lama abadi di hati masyarakat Cirebon. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa “Gandasari” bukanlah nama bawaan lahir, melainkan gelar penuh keramat yang disematkan langsung oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati.
Mengutip literatur otoritatif Buku Sunan Gunung Jati karya Dadan Wildan serta catatan historis yang beredar, Srikandi tangguh ini terlahir dengan nama Nyi Mutmainah. Ia bukanlah anak murni tanah Jawa, melainkan seorang putri dari Syekh Datuk Sholeh (Sultan Shalahuddin), penguasa Kesultanan Samudera Pasai, Aceh, yang membawa misi besar menyebarkan ajaran Islam di wilayah Cirebon.
Jejak Keramat dan Ramalan Geopolitik Kuno
Kisah hidup Nyi Mutmainah berbalik arah pada abad ke-15, bertepatan dengan kunjungan Ki Kuwu Carbon ke Kesultanan Samudera Pasai. Saat berusia satu setengah tahun, Nyi Mutmainah menderita sakit parah yang tak kunjung sembuh.
Baca Juga:Menbud ke Keraton Kasepuhan dan Rencana Transformasi Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang Jadi Taman BudayaSisa Kas Jabar Rp500 Ribu, Sekda Herman Suryatman Bongkar Strategi Belanja Agresif Era Dedi Mulyadi
Sang ayah yang dirundung pilu akhirnya menggelar sayembara: barangsiapa yang mampu menyembuhkan putrinya, maka sang anak akan diserahkan. Takdir mempertemukan mereka dengan Ki Kuwu Carbon.
Melalui untaian doa yang dikhususkan ke hadirat Allah SWT, keramat Ki Kuwu Carbon bekerja nyata dan Nyi Mutmainah sembuh total. Sesuai janji, sang putri Pasai diboyong ke Negeri Carbon untuk dibimbing menjadi murid.
Di balik keputusan itu, Ki Kuwu Carbon menyimpan rahasia geopolitik besar. Berdasarkan ilham (hatif) yang didapatkannya, Cirebon kelak akan menghadapi ancaman serangan dari Kerajaan Galuh di bawah pimpinan Prabu Cakraningrat—raja sakti mandraguna yang tak tertandingi.
Namun, petunjuk gaib itu juga mengunci satu kepastian: sang raja kelak hanya bisa dikalahkan oleh seorang wanita khusus (hing wanojaha kang pangawiji).
Teringat akan ramalan tersebut, Ki Kuwu Carbon menggembleng Nyi Mutmainah dengan keras melalui laku kesatria dan spiritual. Ia pun tumbuh menjadi wanita perkasa berparas jelita yang memiliki raga serta kesaktian tak tergoyahkan (wanojaha linggihing pangelmu wuleding raga).
