Blueprint Ekspor SDM Jabar, dari SMK Tembus Pasar Global

Blueprint Ekspor SDM Jabar, dari SMK Tembus Pasar Global
Potret Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengenakan blangkon dalam acara formal terkait program SMK Go Global. Foto: Doc Pemprov Jabar

CIREBONINSIDER.COM – ​Pasar kerja global bergerak liar. Di saat bersamaan, Jepang, Korea Selatan, hingga kawasan Eropa berdarah-darah menghadapi aging population atau krisis tenaga kerja produktif. Di sisi lain, Indonesia berdiri di atas momentum emas: bonus demografi.

​Pertanyaannya: Apakah kita hanya ingin jadi penonton, atau pemain utama?

​Pemerintah bergerak taktis. Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin bersama Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan meninjau langsung dapur pencetakan talenta global lewat program SMK Go Global di Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI), Bandung.

​Langkah ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah pertaruhan strategis nasib tenaga kerja Indonesia (TKI) di kancah internasional.

Baca Juga:Singkirkan 'Pabrik' Ijazah! Wagub Erwan Minta SMK di Sumedang Jamin Lulusan Langsung KerjaPabrik Alat Berat Listrik Pertama Buka di Karawang, Dedi Mulyadi Pangkas Impor dan Serap Lulusan SMK

​Peluang Menganga: 212 Ribu Kursi Kosong Menanti

​Berdasarkan data Sistem Informasi Pasar Kerja Luar Negeri (SIP2MI) per 4 Oktober 2026, peluang kerja di luar negeri masih terbuka sangat lebar. Dari total 287.291 posisi yang tersedia, baru 26,14% yang terserap. Sebanyak 73,86% atau setara 212.182 posisi masih kosong melompong.

​Kendala utamanya klasik: standar kualifikasi. Banyak lowongan tersedia, tetapi sedikit yang siap pakai.

​Jawa Barat membuktikan taringnya dalam menjawab tantangan ini. Data BP3MI per 8 Oktober 2026 mencatat, jumlah peserta pelatihan dari Jabar menyentuh 1.319 orang—angka partisipasi tertinggi dibandingkan wilayah kerja BP3MI manapun di Indonesia.

​”Kita tidak ingin mencetak pekerja migran yang hanya sekadar siap berangkat kerja. Kita ingin mencetak pekerja migran yang siap bersaing dan terlindungi,” tegas Wagub Erwan Setiawan.

​Memutus Mata Rantai “Pekerja Rentan” dari Hulu

​Selama bertahun-tahun, stigma pekerja migran kerap diidentikkan dengan kerentanan sosial, minim proteksi, hingga jerat calo ilegal. Paradigma itu kini dirombak total lewat pencegahan berbasis hulu.

​Pelindungan terbaik bukanlah saat buruh migran tersandung masalah di negeri orang, melainkan saat mereka dibekali kompetensi baja sebelum menginjakkan kaki di bandara.

​Di UKRI Bandung, sebanyak 175 peserta digembleng dalam sembilan kelas intensif yang terbagi ke dalam tiga klaster keahlian utama:

Baca Juga:Petaka MBG SMKN 6 Semarang, BGN Suspend SPPG Karangturi, Kebut 'Live Tracking' Dapur Digital​Ancam Subsidi Sekolah! KDM Wajibkan Siswa SMA/SMK Nyapu Sampah demi Nilai IPA

Pertama, ​Klaster Operation Production: Diikuti oleh 57 peserta yang terbagi dalam 3 kelas, berfokus pada penguasaan operasional industri manufaktur dipadu intensif bahasa Inggris.

0 Komentar