CIREBONINSIDER.COM — Peringatan haul ulama besar kharismatik Syekh Magelung Sakti di Desa Karangkendal, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, kembali digelar. Tahun ini, puncak acara tradisi sakral berjuluk Ngunjung tersebut dijadwalkan akan berlangsung pada 19 Oktober, yang siap menyedot perhatian ribuan peziarah dari berbagai daerah.
Di balik lautan manusia yang memadati kompleks makam keramat setiap tahunnya, tersimpan lapisan sejarah kultural yang kaya, mulai dari seni budaya, taktik dakwah para wali, hingga jejak kuliner sarat filosofi.
Peran Ki Tersana dan Asal-Usul Tradisi Penyembelihan Kerbau
Dalam cerita rakyat (folklore) masyarakat setempat, kemeriahan tradisi Ngunjung erat kaitannya dengan figur Ki Tersana, seorang tokoh seniman sekaligus pimpinan lokal asal wilayah Tersana, Indramayu. Ki Tersana digambarkan sebagai tokoh yang memiliki perangkat kesenian tradisional (gamelan) yang kemudian datang berguru dan tunduk kepada Syekh Magelung Sakti.
Baca Juga:Selusur 'Silicon Valley Purba' di Cirebon, Haul Syekh Magelung Sakti hingga Uniknya Tradisi NgunjungTelusuri ‘Silicon Valley’ Purba di Cirebon, Siasat Sunan Gunung Jati Cetak Pemimpin Nusantara di Karang Brai
Saat menyatakan kesetiaannya sebagai murid, Ki Tersana memiliki tradisi komunal untuk mengadakan pesta rakyat atau syukuran atas hasil bumi. Beliau meminta agar dalam momentum berkumpulnya warga—yang kemudian menjadi cikal bakal tradisi Ngunjung—disembelih seekor kerbau.
Merespons permintaan tersebut, Syekh Magelung Sakti menerapkan strategi diplomasi dakwah yang cerdas. Melalui tawar-menawar, diputuskan bahwa penyembelihan kerbau hanya dilakukan sekali dalam setahun saat momen kumpul bersama. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan:
– Strategi Merangkul Tokoh Budaya: Mengabulkan permohonan Ki Tersana adalah bentuk penghargaan untuk merangkul kelompok seniman dan masyarakat luas tanpa mematikan potensi seni budaya lokal.
– Pengalihan Fungsi Syiar: Tradisi penyembelihan dialihkan dari potensi ritual lama menjadi sarana sedekah daging untuk memberi makan santri, fakir miskin, dan peziarah.
– Daya Tarik Dakwah: Perpaduan antara pementasan seni Ki Tersana dan santapan bersama menjadi magnet massa sukarela, yang dimanfaatkan Syekh Magelung Sakti untuk menyampaikan ajaran Islam.
Misteri dan Filosofi “Rujak Wuni”
Dari prosesi penyembelihan kerbau tersebut, lahirlah sebuah istilah kuliner legendaris yang sarat folklor, yakni Rujak Wuni. Secara historis, rujak wuni merujuk pada hidangan khusus berupa olahan organ dalam (jeroan) serta bagian daging segar dari hewan kurban yang dipotong.
