​Tradisi Ngunjung Karangkendal Cirebon: Asal-Usul, Rujak Wuni, dan Haul Syekh Magelung Sakti

​Tradisi Ngunjung Karangkendal Cirebon: Asal-Usul, Rujak Wuni, dan Haul Syekh Magelung Sakti
Antusiasme warga dan peziarah yang memadati kompleks makam dalam tradisi Ngunjung dan Haul Syekh Magelung Sakti di Desa Karangkendal, Cirebon. Foto: Istimewa

Nama “wuni” disematkan karena warna visual olahannya yang kemerah-merahan hingga kehitaman, menyerupai kematangan buah huni (Antidesma bunius).

​Pada masa peralihan dakwah Islam, hidangan ini merekam proses akulturasi yang mendalam:

– ​Transformasi Sesajen: Sebelum memeluk Islam secara kafah, penyembelihan kerap diiringi persembahan jeroan dan darah mentah sebagai ritual kuno.

Baca Juga:Selusur 'Silicon Valley Purba' di Cirebon,  Haul Syekh Magelung Sakti hingga Uniknya Tradisi NgunjungTelusuri ‘Silicon Valley’ Purba di Cirebon, Siasat Sunan Gunung Jati Cetak Pemimpin Nusantara di Karang Brai

– ​Penguburan Kebiasaan Lama: Oleh Syekh Magelung Sakti, praktik tersebut diubah total. Jeroan diolah dengan rempah tradisional menjadi hidangan bersama, lalu sebagian ditanam (mendem rujak wuni) sebagai simbol penguburan kebiasaan buruk zaman kuno.

– ​Makna Filosofis: Pengolahan dan pembagian rujak wuni melambangkan pembersihan batin, pengikisan sifat-sifat hewani, serta kehebatan taktik dakwah para wali yang menggeser bentuk tradisi tanpa menghancurkannya secara radikal.

​Nilai Sosio-Antropologis dan Keberkahan Silaturahmi

​Hingga hari ini, eksistensi tradisi Ngunjung Karang Kendal terbukti sangat relevan dan penting untuk terus dipertahankan karena menghadirkan banyak manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat:

– ​Pengikat Solidaritas Sosial: Menjadi ajang silaturahmi akbar sekaligus “mudik lokal” bagi para perantau asal Karang Kendal untuk kembali merajut kebersamaan.

– ​Penggerak Ekonomi Kerakyatan: Mendongkrak perekonomian lokal melalui pasar kaget, UMKM kuliner, hingga sektor penunjang pariwisata religi.

– ​Benteng Identitas Budaya: Merawat kekayaan sejarah dan ingatan kolektif masyarakat agar tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.

​Menanggapi esensi dari perhelatan ini, Ustadz Wahyu, selaku Juru Kunci Makam Ki Krayunan-Nyi Selawe, menegaskan bahwa tradisi Ngunjung pada dasarnya merupakan wujud nyata implementasi ajaran Islam yang sangat menganjurkan ikatan persaudaraan.

Baca Juga:Menguak Misteri Ki Buyut Selawe Cirebon: Kisah 'Kebo Bule' dan Logika Mistis Lepasnya Timor LesteTengok Revitalisasi Situs Ki Buyut Selawe Cirebon: Atap Lapuk Nyaris Ambruk, Juru Kunci Ketuk Hati Para PMI

​”Adat ngunjung ini pada hakikatnya merupakan implementasi dari silaturahmi, yang dalam ajaran Islam sendiri sangat dianjurkan karena memiliki banyak sekali dampak positif,” ujar Ustadz Wahyu.

​Beliau juga menambahkan bahwa buah dari menyambung silaturahmi tersebut kerap dirasakan langsung oleh masyarakat yang hadir dengan penuh keikhlasan dan pengharapan rida Allah SWT:

​”Karena itu, sangat wajar jika kemudian berkembang banyak kebaikan dan mitos positif di tengah masyarakat. Konon, bagi para tamu yang masih lajang dan datang berkunjung, selang berapa lama seringkali dimudahkan dipertemukan dengan jodohnya. Begitu pula para petani, pedagang, atau pengusaha yang turut berkunjung, insya Allah banyak mendapat keberkahan karomah serta rida Allah, berupa kemakmuran dan kesuksesan dalam usahanya,” imbuhnya.

0 Komentar