CIREBONINSIDER.COM – Sejarah Cirebon menyimpan babad berdarah di wilayah utara, tepatnya di aliran Sungai Ketapang Ragas, Desa Kertasura, Kecamatan Kapetakan. Di tempat inilah tersimpan kisah kepahlawanan Raden Mantri Jayalaksana—murid sekaligus anak angkat kesayangan Syekh Magelung Sakti—yang mempertaruhkan nyawa dalam duel kolosal untuk membendung masuknya kembali ajaran lama ke Cirebon utara.
Raden Mantri Jayalaksana: Perisai Spiritual Karangkendal dan Warisan Syekh Magelung Sakti
Nama Desa Karangkendal di Cirebon utara tidak bisa dilepaskan dari figur sentral Syekh Magelung Sakti, ulama besar asal Syam yang terkenal dengan karomah rambut panjangnya. Untuk membentengi wilayah dakwah Islam dan mencegah masuknya kembali pengaruh luar, sang syekh mempercayakan garis pertahanan utama kepada murid terpercayanya, Raden Mantri Jayalaksana (Raden Sumantri).
Sebagai pewaris langsung ilmu kanuragan dan batin tingkat tinggi, Raden Mantri menjelma menjadi ikon keteguhan iman. Ia adalah perisai pelindung masyarakat Karangkendal yang berdiri paling depan menghadapi ekspansi pasukan Kerajaan Galuh.
Baca Juga:Haul Syekh Magelung Sakti 2026, Magnet Ulama Nusantara Siap Guncang Pesisir CirebonKetika 5 Desa di Cirebon Tumpah Ruah Satukan Barisan di Tradisi Ngunjung Syekh Magelung Sakti
Siapa Antaboga? Antara Naga Mitologi dan Senopati Galuh
Ancaman besar datang dari Kerajaan Galuh yang mengirimkan senopati pilih tanding bernama Antaboga untuk meredam pengaruh Islam di Cirebon utara.
Dalam pewayangan Jawa, Antaboga dikenal sebagai dewa penguasa lapis bumi berwujud naga raksasa. Namun, dalam babad lokal Cirebon, ia adalah manusia nyata—seorang panglima perang tangguh dari Galuh.
Penggunaan nama “Antaboga” disinyalir sebagai gelar kehormatan untuk menggambarkan keganasannya di medan laga yang setara dengan kekuatan sang naga mitologis.
Adu Kanuragan Tingkat Tinggi di Sungai Ketapang Ragas
Pertarungan sengit antara Raden Mantri sebagai perwakilan tangan kanan Syekh Magelung Sakti melawan Antaboga pecah di tepian Sungai Ketapang Ragas. Duel ini mempertemukan dua mazhab kekuatan secara seimbang dan melelahkan:
– Ilmu Kebal Tembaga: Antaboga menyerang membabi buta dengan pusaka ampuh, sementara Raden Mantri berdiri tenang tanpa mempan sabetan logam berkat olah kanuragan matangnya.
– Mobilitas di Atas Air: Memanfaatkan ilmu meringankan tubuh warisan spiritual tingkat tinggi, Raden Mantri bergerak lincah di atas permukaan rawa dan sungai tanpa tenggelam.
