– Tenaga Dalam Wali: Benturan pukulan kontak kedua kesatria ini memicu suara menggelegar layaknya guntur, memecah kesunyian wilayah Karangkendal selama berhari-hari.
Sampyuh, Tradisi Adat Senin, dan Mitos Air Merah yang Melegenda
Pertarungan epik tersebut berakhir dengan kondisi sampyuh—kematian bersama di medan laga akibat benturan ajian pamungkas. Bagi masyarakat Cirebon, gugurnya Raden Mantri dihitung sebagai syahid dalam membela dakwah Islam yang dirintis oleh gurunya.
Misteri dan penghormatan atas gugurnya sang kesatria bahkan terus hidup dalam tradisi masyarakat hingga hari ini. Konon, dalam setiap tahunnya, puncak kegiatan adat Kunjungan selalu diadakan pada pagi hari Senin, di mana para Kuwu, perangkat desa, dan masyarakat bersama-sama melakukan tahlil serta doa. Berdasarkan tutur para sesepuh, hari Senin dipilih karena pada hari itulah konon diterima kabar gugurnya Raden Mantri di medan laga.
Baca Juga:Haul Syekh Magelung Sakti 2026, Magnet Ulama Nusantara Siap Guncang Pesisir CirebonKetika 5 Desa di Cirebon Tumpah Ruah Satukan Barisan di Tradisi Ngunjung Syekh Magelung Sakti
Hingga kini, jejak peristiwa tersebut abadi di Karangkendal. Konon, air di aliran Sungai Ketapang Ragas sering terlihat bersemu kemerahan—dipercaya sebagai sisa memori historis dari tumpahan darah dua kesatria sakti yang bertarung habis-habisan.
Kisah heroik Raden Mantri utusan dari Karangkendal adalah bukti otentik dinamika sejarah Islam di Cirebon yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat. (*)
