CIREBONINSIDER.COM— Peta harga BBM nonsubsidi di Indonesia bergejolak hebat per September 2026. Lompatan harga ekstrem melanda lini diesel premium dan bensin beroktan tinggi. Uniknya, seluruh pengelola SPBU—mulai dari Pertamina, Shell, hingga bp—sepakat mengambil satu strategi misterius: mengunci harga bensin RON 92 tetap stabil.
Pertamax bertahan di angka Rp15.950 per liter, sementara BP 92 tak bergeming di level Rp16.130 per liter. Fenomena ini memicu pertanyaan besar bagi jutaan pemilik kendaraan. Ada kalkulasi bisnis tajam dan sensitivitas publik yang dimainkan para operator di tengah tekanan harga minyak mentah dunia.
Dilema Kelas Menengah: RON 92 Dibiarkan ‘Bernapas’
Keputusan menahan harga RON 92 bukan tanpa alasan. Bensin jenis ini adalah “tulang punggung” konsumsi kendaraan pribadi kelas menengah.
Baca Juga:Kuningan Darurat 500 Ton Sampah, 6 Kampus Bersatu Sulap Limbah Plastik Jadi BBM Genset!DPR Tagih Skema Baru BBM: Minyak Dunia Turun, Harga di SPBU Jangan Ditahan!
Menaikkan harga RON 92 secara drastis berisiko memicu migrasi massal (shifting) konsumen ke BBM bersubsidi seperti Pertalite yang bertahan di Rp10.000 per liter. Operator SPBU memilih menahan margin di segmen ini demi menjaga volume penjualan agar tidak goyah.
Lonjakan Liar Segmen Diesel dan Oktan Tinggi
Berbeda dengan RON 92, segmen diesel nonsubsidi dihantam penyesuaian harga paling tajam. Beban biaya impor minyak mentah dan pasokan bahan baku biodiesel global mendorong harga segmen ini melambung tinggi.
Di lini diesel super premium, Pertamina mematok Dexlite di angka Rp23.700 per liter dan Pertamina Dex sebesar Rp25.200 per liter. Sementara itu, persaingan ketat terjadi di SPBU swasta, di mana Shell V-Power Diesel dan BP Ultimate Diesel sama-sama menyentuh puncak tertinggi Rp25.420 per liter.
Skenario serupa melanda bensin beroktan tinggi (high-performance). Pertamax Turbo kini menyentuh Rp19.600 per liter, Pertamax Green melompat ke Rp19.150 per liter, dan BP Ultimate menempel ketat di harga Rp19.330 per liter. Sebagai penyeimbang, BBM bersubsidi tetap tak berubah dengan Solar Subsidi di angka Rp6.800 per liter dan Pertalite Rp10.000 per liter.
Sinyal Penting bagi Konsumen
Divergensi harga ini menegaskan bahwa strategi penetapan harga BBM tidak lagi berpatokan homogen pada pergerakan minyak mentah semata. Kebijakan ini sangat bergantung pada karakter konsumen.
