CIREBONINSIDER.COM - Ketegangan geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia kembali mengguncang pasar keuangan global. Namun, jajaran bank plat merah Indonesia memilih ambil langkah tenang.
Di tengah ancaman higher for longer dan ketatnya likuiditas, tiga bank BUMN besar—BRI, BNI, dan Bank Mandiri—kompak mempertahankan tingkat suku bunga deposito Rupiah mereka per awal September 2026.
Langkah ini menegaskan strategi kehati-hatian Himbara dalam menjaga marjin profitabilitas, sekaligus membendung risiko gejolak pasar di kuartal ketiga.
Baca Juga:Awas Terkecoh Bunga Tinggi! LPS Buka Rahasia Pilih Bank AmanUang Melimpah Rp446 Triliun di Bank, Mengapa Pengusaha Masih Enggan Tarik Kredit?
Peta Bunga Deposito Terbaru: Mana Paling Cuan?
Di tengah pasar yang fluktuatif, deposito perbankan tetap menjadi benteng pertahanan utama. Perlindungan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan batas bunga penjaminan 3,75% memberikan rasa aman mutlak bagi pemilik modal.
Masing-masing bank BUMN memiliki strategi penawaran yang berbeda:
– Bank Rakyat Indonesia (BRI): BRI mengunci bunga tertinggi sebesar 3,00% per tahun pada tenor pendek (1, 3, dan 6 bulan). Sementara untuk simpanan jangka panjang (12, 24, hingga 36 bulan), imbal hasilnya dipatok lebih landai di level 2,50% per tahun.
– Bank Negara Indonesia (BNI): Penawaran terbaik BNI berada di tenor menengah 6 bulan dengan bunga 2,75% per tahun. Untuk tenor 3, 12, dan 24 bulan diberikan imbal hasil 2,50%, sedangkan tenor paling singkat 1 bulan berada di angka 2,25%.
– Bank Mandiri: Mandiri memilih skema yang stabil. Bunga tertinggi sebesar 2,50% per tahun berlaku merata untuk tenor 6, 12, hingga 24 bulan. Adapun penempatan singkat 1 dan 3 bulan mendapatkan imbal hasil 2,25%.
Mengapa Himbara Tahan Suku Bunga?
Kebijakan penahanan suku bunga simpanan ini berada di bawah bayang-bayang eskalasi geopolitik pasca-kandasnya negosiasi Iran-AS yang mendorong harga minyak Brent mendekati US$ 100 per barel.
Di dalam negeri, implikasi pengetatan likuiditas sangat terasa akibat kombinasi tiga faktor utama:
– Tekanan Nilai Tukar: Penguatan Dolar AS menekan posisi Rupiah, sehingga perbankan harus memperhitungkan biaya dana secara cermat.
Baca Juga:Aksi Nyata bank bjb di Harpelnas 2026, dari Inklusi Disabilitas hingga Pangkas Carbon FootprintNakhoda Baru Bank Indonesia Resmi Dilantik, Sinyal Kunci Sinergi Menkeu, OJK, dan Pasar Modal
– Persaingan Imbal Hasil SBN: Merangkaknya yield Surat Berharga Negara menyerap likuiditas pasar dan memicu persaingan ketat perebutan Dana Pihak Ketiga (DPK).
– Transmisi Suku Bunga: Dampak penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia sebelumnya mulai bekerja penuh terhadap struktur simpanan perbankan.
