Rem Likuiditas Berbuah Rekor Laba, Siasat BRI Tembus Rp31,2 Triliun

BRI
Jajaran Direksi BRI berpose setelah memaparkan kinerja keuangan Triwulan II 2026. Meskipun mencetak laba bersih Rp31,2 triliun, manajemen menekankan disiplin likuiditas ketat sebagai strategi jangka panjang. Foto: Istimewa

CIREBONINSIDER.COM— PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) memilih tidak berpuas diri di tengah moncernya kinerja keuangan. Meski berhasil mencetak laba bersih konsolidasi Rp31,2 triliun pada semester I 2026, emiten perbankan plat merah ini memasang mode waspada tinggi menghadapi dinamika likuiditas hingga penutupan tahun.

​Tekanan likuiditas di industri keuangan nasional memang kian berdenyut. Namun, BRI merespons persaingan dengan disiplin ketat: memperkuat fondasi dana murah ketimbang terjebak dalam perang suku bunga.

​Menjaga Dahaga Likuiditas Tetap Aman

​Indikator kesehatan likuiditas BRI terbukti berada di zona aman. Rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) industri perbankan nasional tercatat berada di level 88,3 persen per Juni 2026.

Baca Juga:​BRI Perketat Pencairan KUR KDKMP, Seluruh Pengurus Koperasi Desa Wajib Lolos SLIK OJK​Trik Amankan Modal Usaha Rp40 Juta KUR BRI 2026 tanpa Terjerat Cicilan

​Sementara itu, LDR BRI bertengger sedikit di atas rata-rata industri, yaitu pada posisi 90,8 persen.

​”Likuiditas perbankan nasional masih berada pada level yang memadai. Namun, BRI tetap mencermati perkembangannya hingga akhir tahun untuk mengantisipasi berbagai dinamika yang mungkin terjadi,” tegas Wakil Direktur Utama BRI, Viviana Dyah Ayu Retno K, saat paparan kinerja keuangan Kuartal II 2026 di Jakarta.

​Masuk ke semester II 2026, manajemen menyelaraskan laju ekspansi kredit dengan kapasitas penghimpunan dana. BRI aktif menggandeng para anchor client guna memastikan struktur pendanaan tetap sehat dan efisien.

​Banjir Dana Murah Tekan Biaya Bunga

​Langkah berani memburu dana murah (Current Account Savings Account/CASA) membuahkan hasil nyata. Hingga akhir Juni 2026, BRI berhasil meraup Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.580,7 triliun, tumbuh 6,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

​Pertumbuhan DPK ini tidak ditopang oleh deposito yang mahal, melainkan murni dari dana murah:

– ​Tabungan: Melonjak paling tinggi, tumbuh 11,3 persen (yoy).- ​Giro: Menyumbang pertumbuhan solid sebesar 8,5 persen (yoy). – ​Deposito: Tumbuh melambat dan sangat terkendali di angka 0,2 persen (yoy).

​Imbas pergeseran struktur ini sangat terasa pada beban bunga. Biaya dana atau Cost of Fund (CoF) BRI berhasil dipangkas tajam menjadi 2,4 persen pada semester I 2026, turun signifikan dibandingkan posisi 3 persen pada periode yang sama tahun lalu.

0 Komentar