Tiga, Penguatan Ekosistem Usaha: Membuka jalur kolaborasi dengan offtaker (pembeli siaga) yang terpercaya. Cara ini memastikan hasil panen petambak langsung terserap pasar dengan harga adil, sehingga kelancaran pengembalian pinjaman makin terjamin.
Peluang Masif di Balik Defisit Garam Cirebon
Langkah pembenahan skema kredit ini disambut positif oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon. Gap raksasa antara pasokan dan kebutuhan industri dinilai sebagai peluang emas yang belum tergarap optimal.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Cirebon, Dangi, menegaskan bahwa momentum kolaborasi ini harus dimanfaatkan untuk pembenahan sektor hilir hingga hulu.
Baca Juga:Mei Hampir Habis, Mengapa Hamparan Tambak Garam di Cirebon Masih Sunyi dan Basah?Garam Cirebon Berpotensi 90 Turunan Kimiawi, BP Rebana: Hilirisasi Harus Cepat Tarik Investor Global
”Kondisi tersebut menjadi peluang pengembangan produksi, investasi, pengolahan, dan pembiayaan agar komoditas garam memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian Kabupaten Cirebon,” ujar Dangi.
Pemerintah Daerah berkomitmen menyelaraskan seluruh kebijakan lintas sektor untuk mendukung ekosistem ini, mulai dari:
– Menarik investasi teknologi pengolahan agar garam lokal memenuhi standar mutu industri.
– Mendorong kemudahan perizinan dan pendampingan usaha di wilayah pesisir.
– Mengawal implementasi pembiayaan musiman bersama OJK dan perbankan agar tepat sasaran.
Menghidupkan Kembali Ekonomi Pesisir
Membenahi industri garam Cirebon tidak cukup hanya dengan menyalurkan bantuan sarana produksi. Tanpa reformasi sistem pembiayaan yang realistis, petambak akan terus terperangkap dalam lingkaran keterbatasan modal dan catatan merah SLIK.
Kini, komitmen OJK Cirebon dan Pemerintah Daerah menjadi secercah harapan baru. Jika skema pembiayaan berbasis musim ini sukses direalisasikan, Cirebon tak hanya berpeluang menutup celah impor garam industri, tetapi juga mengangkat taraf hidup para petambak di sepanjang pesisir.(*)
