CIREBONINSIDER.COM — Paradigma lama yang menempatkan masyarakat sekitar kawasan hutan konservasi sekadar sebagai penonton kini digeser. Pemerintah Kabupaten Kuningan bersama Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) resmi mendorong penguatan ekonomi masyarakat desa penyangga tanpa mengorbankan fungsi ekologis kawasan.
Prinsip dasarnya tegas: kelestarian hutan dan kesejahteraan dapur warga harus berada di garis sejajar.Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menegaskan, perlindungan alam yang terpisah dari kesejahteraan warga sekitar hanya akan memicu gesekan.
”Prinsip ekologis dan ekonomi berjalan beriringan. Tidak bisa ekonomi saja lalu ekologinya hancur. Sebaliknya, ekologis saja tidak cukup kalau masyarakatnya tidak sejahtera,” ujar Dian di Kuningan.
Baca Juga:Skandal Air Gunung Ciremai: KDM Instruksikan Audit Total 90% Pemanfaat Ilegal!Sidak Gunung Ciremai, Dedi Mulyadi Semprot Kepala TNGC Soal Tambang Ilegal dan Proyek Seremonial
Menurut Dian, potensi ekonomi melimpah di sekeliling Ciremai masih bisa dioptimalkan secara bijak. Mulai dari pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), ekowisata, jasa lingkungan, hingga sektor pertanian dan perikanan darat yang ramah lingkungan.
Suntikan Modal Rp155 Juta untuk Warga Penyangga
Langkah integrasi tersebut langsung diwujudkan dalam bentuk stimulan usaha. Balai TNGC resmi mengucurkan bantuan ekonomi produktif senilai total Rp155 juta untuk lima kelompok masyarakat pionir di desa penyangga Kabupaten Kuningan. Bantuan modal tersebut disalurkan secara terukur. Koperasi Ciremai Green Lambosir menerima porsi terbesar sebesar Rp50 juta. Disusul Koperasi Karya Putra Mandiri yang mengantongi Rp30 juta.
Sementara itu, tiga kelompok lainnya masing-masing menerima alokasi Rp25 juta. Ketiganya meliputi Kelompok Pembudidaya Ikan Desa Sadamantra, Kelompok Pertanian Purba, dan Koperasi Lamping Kidang.
Kuningan Siapkan Pendampingan dari Hulu ke Hilir
Agar dana bantuan tidak habis menguap tanpa dampak berkelanjutan, Pemkab Kuningan menyiapkan skema pendampingan lintas sektor. Perangkat daerah terkait diinstruksikan turun tangan membantu pengelolaan manajemen usaha para penerima manfaat.
Fokus pendampingan mencakup empat pilar utama: Pertama, Inovasi pengembangan produk. Kedua, Peningkatan standar kemasan (packaging). Ketiga, Perluasan akses pasar modern dan digital. Keempat, Penguatan manajemen usaha dan tata kelola keuangan.
Sinergi ini menghubungkan sektor UMKM, koperasi, pertanian, dan pariwisata daerah agar produk berbasis lingkungan dari lereng Ciremai punya daya saing tinggi.
