Mei Hampir Habis, Mengapa Hamparan Tambak Garam di Cirebon Masih Sunyi dan Basah?

Petambak-Garam-Tradisional-Cirebon
​Petambak garam tradisional Cirebon bersiap memasang plastik geomembran di area tambak pesisir Pantura Jawa Barat. Foto: ilustrasi /AI

​CIREBONINSIDER.COM – Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Cirebon memasang target besar: 76 ribu ton garam rakyat wajib terproduksi sepanjang tahun ini.

Namun, menyusuri garis Pantai Utara (Pantura) Cirebon di penghujung Mei 2026, realitas di lapangan menyajikan pemandangan sebaliknya.

Hamparan ladang tambak masih senyap, belum memutih oleh kristal asin. Para petambak lokal kini terjebak dilema besar—berkejaran dengan target ambisius birokrasi di bawah bayang-bayang anomali cuaca yang sulit ditebak.

Baca Juga:Garam Cirebon Berpotensi 90 Turunan Kimiawi, BP Rebana: Hilirisasi Harus Cepat Tarik Investor GlobalPrabowo Sindir Proyek Kantor Megah: Pilih Tunda Anggaran demi Tambak Udang Kebumen Senilai Rp134 Miliar

​Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Pengolahan, dan Pengawasan DKPP Kabupaten Cirebon, Teguh Budiman, tidak menampik adanya pergeseran siklus produksi pada tahun ini.

Kendati demikian, otoritas terkait optimistis bahwa angka 76 ribu ton tersebut bukan sekadar kalkulasi di atas kertas.

​”Target produksi tahun ini sekitar 76 ribu ton. Kami menaruh harapan besar pada stabilitas cuaca di bulan-bulan mendatang agar pemanfaatan lahan bisa berjalan maksimal,” ujar Teguh saat dikonfirmasi di Cirebon, Kamis (28/5/2026).

​Ironi Akhir Mei: Tanah Basah dan Gulungan Geomembran yang Menganggur

​Melihat rekam jejak historisnya, pesisir pesisir Cirebon idealnya sudah mulai diselimuti kristal garam pada medio Mei hingga Juni. Kenyataannya, intensitas hujan yang masih kerap mengguyur wilayah Pantura hingga akhir Mei 2026 memaksa petambak memilih opsi bertahan.

​Sektor komoditas garam rakyat di Cirebon memang potret nyata industri yang berserah penuh pada alam (nature-dependent). Proses kristalisasi mutlak membutuhkan penguapan air laut yang dipicu oleh paparan terik matahari konstan.

Dalam rumus produksi garam, tanah tambak yang becek dan jenuh air adalah musuh nomor satu yang merusak seluruh fase awal penuaan air laut.

​”Tanah tambak harus benar-benar mengalami dehidrasi atau kering total sebelum lapisan geomembran digelar. Jika rintik hujan masih turun, proses produksi dipastikan lumpuh,” tutur Teguh menjelaskan kendala teknis di lapangan.

Baca Juga:Indramayu Siap Revitalisasi Tambak Non Produktif di 5 Kecamatan Jadi Lahan Perikanan ModernKKP Yakin Program Revitalisasi Tambak Pantura Jabar Mampu Serap 100 Ribu Tenaga Kerja

​Imbasnya, gulungan geomembran—terpal plastik khusus pembantu percepatan kristalisasi sekaligus pendongkrak kualitas mutu garam—kini menumpuk pasif di gudang-gudang warga.

Menggelar plastik di atas tanah yang basah sama saja memicu kegagalan panen dini; sebuah risiko finansial yang enggan diambil oleh para petambak.

0 Komentar