Prabowo Sindir Proyek Kantor Megah: Pilih Tunda Anggaran demi Tambak Udang Kebumen Senilai Rp134 Miliar

Prabowo-Subianto
Presiden Prabowo Subianto saat meninjau panen raya udang vannamei di tambak modern BUBK Kebumen Jawa Tengah. Foto: Doc Setneg RI

CIREBONINSIDER.COM – Presiden Prabowo Subianto secara blak-blakan menyentil arah kebijakan pembangunan infrastruktur di tanah air. Di hadapan jajaran Kabinet Merah Putih, Kepala Negara menegaskan komitmennya untuk menahan diri dalam mendanai proyek gedung pemerintahan yang dinilai minim produktivitas nyata bagi masyarakat bawah.

​Sebagai gantinya, pemerintah memilih tancap gas menggenjot sektor produktif hilirisasi pangan yang mampu mencetak devisa sekaligus menyuplai kebutuhan protein nasional.

​Sikap tegas tersebut diutarakan langsung oleh Presiden Prabowo saat menghadiri kegiatan Panen Raya Udang ke-8 di lokasi Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (23/5/2026).

Baca Juga:Prabowo Kumpulkan ‘Arsitek’ Penyelamat Krisis 2008: Benteng Taktis Hadapi Badai Ekonomi GlobalTarget Juli 2026: Prabowo Genjot KDMP, Mampukah Hapus 'Penyakit' Kelangkaan LPG dan Beras di Cirebon?

Di atas lahan seluas 100 hektare tersebut, Presiden memantau langsung rantai produksi udang vannamei, mulai dari penarikan jaring di kolam hingga proses penyortiran kualitas sebelum menembus pasar ekspor.

​”Jadi, maaf, kita sekarang agak tunda lah bangun banyak kantor, kantor, kantor. Kantor itu ya perlu, tapi jangan ada kantor nggak ada produktivitas. Lebih baik kantornya tidak begitu bagus, tapi produknya bagus, hasilnya banyak, penghasilan untuk rakyat banyak. Rakyat kita butuh pekerjaan,” ujar Prabowo dengan nada retoris yang kuat dan lugas.

​Transformasi Ekosistem Tambak: Omzet Rp134 Miliar Bukan Sekadar Angka

​BUBK Kebumen saat ini diposisikan sebagai cetak biru (blue print) nasional dalam mengubah wajah tambak tradisional yang rentan pencemaran menjadi sistem tata kelola modern berbasis teknologi lingkungan (good aquaculture practices).

​Kawasan ini tidak lagi mengandalkan cara konvensional, melainkan mengintegrasikan infrastruktur modern yang ketat, antara lain:

– ​Sistem Tata Kelola Terpadu: Memisahkan secara tegas saluran air masuk (intake) dan kolam tandon penampung.

– ​Proteksi Silang Kontaminasi: Desain jalur inlet dan outlet dibuat terpisah guna meminimalkan risiko penularan penyakit udang antar-petak.

– ​Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL): Menjadi benteng terakhir untuk memastikan sisa air operasional aman bagi ekosistem pesisir sebelum dikembalikan ke laut.

Baca Juga:Diikuti Lucky Hakim, Gerakan Koperasi Merah Putih Presiden Prabowo Sasar Jantung Industri Krupuk IndramayuNegara Sita Rp10,2 Triliun dan 5,8 Juta Hektare Lahan Sawit, Shock Therapy Prabowo Bagi Korporasi Nakal

​Melalui efisiensi teknologi ini, produktivitas lahan melonjak drastis. Dari total 206 petak kolam aktif, satu hektare lahan mampu memproduksi hingga 40 ton udang bernilai ekonomi tinggi.

​Dengan rata-rata harga pasar mencapai Rp70.000 per kilogram, kawasan BUBK Kebumen mampu meraup omzet sekitar Rp67,2 miliar per siklus panen.

0 Komentar