CIREBONINSIDER.COM — Tradisi pesta laut Nadran di kawasan utara Kabupaten Cirebon resmi meninggalkan cara-cara lama. Tidak ada lagi acara yang berjalan sendiri-sendiri atau tersekat batas wilayah. Empat desa pesisir di Kecamatan Mundu kini bersatu, meleburkan tradisi leluhur menjadi satu festival terpadu bernilai ekonomi tinggi.
Langkah berani ini ditandai melalui pembukaan Festival Tradisi Nadran Empat Desa di Kecamatan Mundu, Jumat (31/7/2026). Tujuannya jelas: menyulap ritual syukuran nelayan menjadi destinasi wisata budaya unggulan yang mampu memutar roda perekonomian warga pesisir.
Empat desa yang mencatatkan sejarah baru ini meliputi Desa Citemu, Desa Bandengan, Desa Waruduwur, dan Desa Mundu Pesisir.
Baca Juga:Nadran dan Empal Gentong Cirebon Resmi Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Takbenda IndonesiaDuet KNMP dan Koperasi Merah Putih, Strategi Baru Pemerintah Perkuat Daya Saing Nelayan Wakatobi
Mengubah Tradisi Jadi Efek Berganda Ekonomi
Penyatuan format Nadran dari selebrasi parsial menjadi festival terpadu ini mendapat dorongan penuh dari legislatif daerah.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Raden Hasan Basori, menegaskan bahwa potensi pesisir tidak boleh hanya dipandang dari jumlah tangkapan ikan. Identitas budaya, seni pertunjukan, dan kuliner lokal adalah modal ekonomi besar yang harus digarap secara profesional.
“Cirebon punya kekuatan besar di sektor budaya, seni, dan kuliner. Jika dikelola secara berkelanjutan dan didukung penuh, ini menciptakan multiplier effect bagi ekonomi warga pesisir,” tegas Hasan saat membuka festival.
Menurut Hasan, pengalokasian anggaran daerah untuk tradisi Nadran merupakan investasi jangka panjang. Budaya harus memiliki nilai jual tinggi agar mampu mengangkat tingkat kesejahteraan kelompok nelayan, pihak yang selama ini menjadi garda terdepan menjaga ekosistem laut dan tradisi lokal.
“Nadran adalah wujud syukur sekaligus adaptasi sosial warga pesisir terhadap alam. Ini identitas yang harus kita promosikan secara masif ke tingkat nasional,” tambah politisi tersebut.
Apresiasi Akar Rumput: Pertama dalam Sejarah Mundu
Inisiasi penyatuan empat desa ini disambut hangat oleh para pemangku kebijakan tingkat desa. Ketua Forum Komunikasi Kuwu Kecamatan Mundu, Khaerun, mengungkapkan bahwa konsolidasi ini menjadi tonggak sejarah baru bagi masyarakat nelayan setempat.
Sebelumnya, pesta laut selalu berjalan terpisah di masing-masing desa tanpa dampak pariwisata yang luas. Kini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, empat desa pesisir menggelarnya secara padu dalam satu rangkaian agenda terstruktur.
