CIREBONINSIDER.COM – Ancaman gagal panen membayangi status Indramayu sebagai Lumbung Pangan Nasional. Memasuki pertengahan 2026, krisis air makin membakar. Ribuan hektar sawah berada di titik kritis.
Petani di wilayah terdampak sudah terlanjur menanam padi. Tanpa kucuran air secepatnya, modal dan investasi keringat mereka terancam musnah menjadi puso.
Sinyal bahaya ini memicu Rapat Gabungan Komisi II dan IV DPRD Kabupaten Indramayu di Ruang Bapemperda, Rabu (29/7/2026). Dipimpin Wakil Ketua DPRD Indramayu Sirojudin, forum lintas instansi ini mencecar benang kusut distribusi air yang mampet di lapangan.
Baca Juga:Bukan Padamkan Api, Damkar Indramayu Pakai Selang Bertekanan Tinggi Selamatkan Sawah dari KekeringanAncaman Kekeringan 2026: Strategi Kementan Jaga Lumbung Pangan Jawa Barat Tetap Basah
Sawah Terlanjur Hijau, Air Justru Mengering
Kondisi di tingkat tapak sudah sangat mengkhawatirkan. Wilayah Kecamatan Haurgeulis dan Lelea kini menjadi episentrum kekeringan paling krusial.
Di Haurgeulis, sekitar 90 persen lahan pertanian telah ditanami. Petani terpaksa menyedot sisa-sisa air dari Waduk Cipancuh, embung lokal, hingga pompa portabel. Sementara di Lelea, hampir seluruh sawah sudah menghijau—kecuali Desa Cempeh yang terpaksa gigit jari karena pasokan air nol besar.
”Debit air merosot tajam. Kita butuh normalisasi Waduk Cipancuh dan perbaikan saluran irigasi secepatnya,” tegas Camat Haurgeulis di hadapan para pejabat teknis.
Terjebak Sekat Kewenangan: Air Ada, Tapi Tak Sampai
Krisis air di Indramayu bukan cuma persoalan alam. Ini adalah cerita lama tentang rumitnya sekat tata kelola dan kewenangan.
Dinas SDA Kabupaten Indramayu hanya menguasai sekitar 30 persen jaringan irigasi lokal. Selebihnya, kewenangan berada di tangan Dinas SDA Provinsi Jawa Barat serta dua raksasa pengelola sungai: BBWS Cimanuk-Cisanggarung dan BBWS Citarum.
Akibatnya, koordinasi kerap tersendat. Dinas PUPR Indramayu mengklaim infrastruktur pada dasarnya siap, namun debit air waduk yang susut drastis membuat pembagian air berujung ketimpangan. Air menguap sebelum menyentuh akar padi di hilir.
Sulap Lahan Pertamina Jadi Cadangan Air Masa Depan
Mencegah kehancuran total, DPRD dan Pemkab Indramayu tidak lagi hanya bicara teori. Ada enam langkah darurat yang disepakati untuk segera dieksekusi:
Baca Juga:Cirebon Kunci Status Siaga Darurat 92 Hari, Bayang-Bayang Krisis Air dan Karhutla MengintaiPrediksi BMKG 2026: 93% Wilayah Jawa Barat Dilanda Kemarau Panjang, Cirebon-Indramayu Masuk Zona Merah
– Normalisasi Waduk Cipancuh: Pengerukan sedimentasi dilakukan mendesak agar daya tampung air kembali maksimal.
