CIREBONINSIDER.COM — Cara pandang pelatihan kerja di Kabupaten Cirebon mulai bergeser. Tidak ada lagi teori kelas yang membosankan. Kali ini, para pencari kerja langsung diterjunkan ke dapur bisnis lokal lewat metode learning by doing.
Langkah konkret ini ditandai dengan dibukanya Program Peningkatan Produktivitas (Kewirausahaan) oleh Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Cirebon di Aula Dudika, Kamis (16/7/2026).
Inisiatif tersebut menjadi jawaban atas tantangan klasik pengangguran daerah: ketidaksesuaian (mismatch) antara keterampilan lulusan pelatihan dan kebutuhan nyata dunia usaha.
Baca Juga:157 Perusahaan Dilaporkan 'Nunggak' THR 2026, Disnakertrans Jabar Siapkan Sanksi Pembatasan UsahaGedung Disnaker Kota Cirebon Ambruk: DPRD Desak Perbaikan Cepat, Bongkar Teka-teki Aset dan Opsi Dana BTT!
Link and Match Riil, Bukan Sekadar Jargon
Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, menegaskan bahwa dunia industri saat ini tidak lagi sekadar mencari tenaga kerja yang mengantongi ijazah formal. Pasar merindukan SDM yang adaptif, disiplin, beretos kerja tinggi, serta siap pakai.
”Dunia usaha butuh tenaga kerja yang punya produktivitas, etos kerja, disiplin, kreativitas, dan kemauan untuk terus belajar. Inilah bentuk link and match yang riil: menghubungkan hasil pelatihan dengan dunia usaha sekaligus memicu lahirnya wirausaha baru,” ujar Novi.
Pada pelaksanaan tahun 2026, Disnaker mengambil strategi mikro namun berdampak tajam. Sebanyak enam peserta terpilih diproyeksikan untuk menyerap ilmu dan pengalaman langsung dari pemilik usaha lokal.
Dua sektor unggulan yang menjadi fokus utama dalam program ini meliputi sektor pengelasan untuk merespons kebutuhan industri manufaktur serta bengkel teknik yang terus berkembang, serta sektor tata boga dan bakery untuk menangkap peluang manis dari pesatnya pertumbuhan bisnis kuliner di Cirebon.
Mengapa Strategi ‘Magang Mikro’ Ini Krusial?
Masalah utama angkatan kerja daerah kerap bersumber dari minimnya pengalaman praktis. Melalui pendampingan intensif satu-satu (one-on-one) dari para pemilik bisnis, peserta tidak sekadar mengasah keterampilan teknis.
Mereka dipandu untuk memahami tiga aspek krusial di lapangan:
– Manajemen Risiko Bisnis: Memahami alur kerja nyata dan menganticipasi kerugian operasional sejak dini.
– Mentalitas Wirausaha: Menggembleng mental pelayanan, kedisiplinan, serta daya tahan menghadapi tekanan pasar.
Baca Juga:Insiden Atap Disnaker Cirebon: 'Bom Waktu' di Balik Salah Pilih Material Bangunan15 Ribu PHK Jabar: Disnakertrans Klaim Kontrak Habis tapi Tekstil Nyata Terancam Impor dan AI
– Jejak Kemitraan: Membuka peluang emas untuk diserap langsung sebagai karyawan industri mitra atau melangkah mandiri mendirikan usaha.
