CIREBONINSIDER.COM — New York New Jersey Stadium menjadi saksi lahirnya momen bersejarah sekaligus akhir dari sebuah era keemasan. Laga pamungkas Piala Dunia 2026 pada Senin (20/7/2026) dini hari WIB resmi menutup keperkasaan sang juara bertahan, Argentina.
Spanyol keluar sebagai kampiun baru lewat kemenangan tipis 0-1 melalui gol tunggal Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Hasil ini mengantarkan La Furia Roja merengkuh trofi Piala Dunia kedua dalam sejarah mereka.
Di sisi lain, kekalahan ini menandai titik balik dramatis bagi La Albiceleste. Lionel Messi memang kembali menorehkan rekor individu monumental. Namun, rekor itu terasa hambar di tengah badai kelelahan skuad dan sinyal perpisahan dari sang arsitek, Lionel Scaloni.
Baca Juga:Lolos dari Sihir Dibu Martinez, Spanyol Juara Piala Dunia 2026 lewat Gol Dramatis Ferran Torres!Takdir di MetLife: Spanyol Bawa Rekor 37 Laga Unbeaten, Argentina Siap Pertahankan Mahkota
Rekor Abadi di Panggung Termegah
Di usianya yang menginjak 39 tahun 25 hari, Lionel Messi tampil penuh perjuangan di partai puncak. Angka ini resmi menjadikannya pemain non-kiper tertua yang pernah bermain di final Piala Dunia.
Torehan tersebut mematahkan rekor legendaris milik Gunnar Gren asal Swedia yang bertahan selama 68 tahun sejak edisi 1958. Tak hanya itu, Messi kini resmi sejajar dengan legenda Brasil, Cafu, sebagai pemain yang berhasil melangkah ke tiga final Piala Dunia sepanjang sejarah (2014, 2022, dan 2026).
”Rekor ini menegaskan konsistensi tak tertandingi Messi selama lebih dari satu dekade di level tertinggi. Namun, malam di New York tidak menyajikan dongeng indah seperti Lusail 2022. Catatan emas itu terukir dalam sunyi tanpa raihan trofi.”
Baterai Tua yang Kehabisan Daya
Kekalahan Argentina di babak perpanjangan waktu membongkar fakta keras di lapangan. Perjalanan anak asuh Scaloni menuju partai puncak dipenuhi laga maraton yang memeras fisik secara ekstrem.
Sebanyak 8 dari 11 pemain starter Argentina di final 2026 merupakan pilar gaek yang menjuarai edisi 2022. Skuad ini dipaksa bermain ekstra usai melewati tiga drama comeback melelahkan saat menumbangkan Tanjung Verde, Mesir, dan Inggris di fase gugur.
Intensitas tinggi dan mobilitas konstan barisan pemain muda Spanyol akhirnya menjadi pembeda utama. Di menit-menit krusial perpanjangan waktu, pertahanan kokoh Argentina yang sudah kehabisan tenaga akhirnya runtuh.
