CIREBONINSIDER.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon tengah menggodok sebuah proyek ambisius untuk mengintervensi angka kemiskinan ekstrem melalui jalur pendidikan. Bukan lewat skema beasiswa biasa atau sekadar membebaskan biaya SPP, Pemkab Cirebon kini melangkah lebih jauh dengan mematangkan persiapan Sekolah Rakyat Permanen.
Langkah konkret ini diawali dengan pembentukan Tim Transisi Sekolah Rakyat Permanen yang dilegalkan melalui Keputusan Bupati Cirebon. Tim lintas sektoral ini dibentuk untuk memastikan bahwa anak-anak dari keluarga miskin ekstrem di Cirebon tidak hanya “bisa sekolah”, melainkan mendapatkan penanganan kesejahteraan yang menyeluruh dari hulu ke hilir.
Memutus ‘Kutukan’ Kemiskinan Antargenerasi
Selama ini, putus sekolah akibat himpitan ekonomi sering kali menjadi lingkaran setan yang sulit diputus. Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem kerap terpaksa meninggalkan bangku pendidikan untuk bekerja serabutan membantu orang tua.
Baca Juga:Bukan cuma Kejar Megah, Lucky Hakim Soroti Dua Aspek Krusial Ini di Proyek Sekolah Rakyat IndramayuPeminat Sekolah Rakyat Kuningan Membeludak, Skema Baru Putus Rantai Kemiskinan Ekstrem
Pada akhirnya, mereka terjebak dalam status sosial yang sama saat dewasa—sebuah kutukan kemiskinan yang turun-temurun.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Cirebon, Hafidz Iswahyudi, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat Permanen dirancang sebagai instrumen utama untuk mendobrak rantai kemiskinan tersebut.
”Sekolah Rakyat merupakan program yang sangat strategis. Ini bukan hanya menghadirkan layanan pendidikan formal, tetapi menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas SDM sekaligus mempercepat pengentasan kemiskinan di Kabupaten Cirebon,” ujar Hafidz saat memberikan keterangan resmi.
Inovasi Empat Pilar: Mengapa Program Ini Berbeda?
Berbeda total dengan konsep sekolah reguler yang hanya fokus pada urusan kurikulum dan papan tulis, Sekolah Rakyat Permanen bergerak ekstrem dengan menyatukan empat pilar kesejahteraan sekaligus.
Pertama, program ini menyediakan layanan pendidikan formal yang adaptif terhadap kondisi psikologis anak-anak marjinal. Kedua, jaminan tersebut diperkuat dengan intervensi perlindungan sosial dan bansos yang mengalir tepat sasaran ke dapur keluarga mereka.
Ketiga, aspek fisik anak dijaga ketat melalui layanan kesehatan berkala dan pemenuhan gizi untuk mencegah stunting. Terakhir, program ini menyentuh akar rumput lewat pembinaan karakter serta pendampingan keluarga, memastikan orang tua tidak lagi memaksa anaknya putus sekolah demi bekerja. Semua aspek ini bergerak simultan dalam satu ekosistem terpadu.
