Hapus Sinyal Ragu Investor: Bedah Paradoks Rapor Hijau Ekonomi Indonesia

Susiwijono-Moegiarso
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso saat memaparkan strategi DHE SDA dan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Indonesia Financial Summit 2026 di Jakarta. Foto: Istimewa/Doc Kemenko perekonomian

CIREBONINSIDER.COM — Di atas kertas, performa makroekonomi Indonesia hingga pertengahan tahun 2026 menunjukkan performa yang sangat kokoh. Mulai dari pertumbuhan ekonomi yang melesat di angka 5,61% pada triwulan pertama, inflasi Mei yang terkendali aman pada level 3,08%, hingga realisasi investasi yang masif nyaris menyentuh angka Rp500 triliun.

Namun, di balik deretan angka manis tersebut, terselip sebuah pengakuan jujur dari balik meja birokrasi: adanya ganjalan psikologis berupa masalah kepercayaan (trust issue) di kalangan investor global.

​Tantangan riil inilah yang membayangi momentum kebangkitan ekonomi nasional dan menjadi bahasan utama dalam Indonesia Financial Summit 2026 di Jakarta.

Baca Juga:Jabar Juara Dunia! Sabet Penghargaan Wisata Ramah Muslim Terbaik di Global Summit 2026West Java Investment Summit 2025: Momentum Kota Cirebon Tingkatkan Daya Tarik Investasi

Pemerintah kini dituntut bertindak cepat agar modal asing tidak sekadar singgah melihat data makro, melainkan benar-benar berani menanamkan kapital jangka panjang di tanah air.

​Mengapa Investor Masih Menahan Diri?

​Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menegaskan bahwa jurang pemisah (gap) antara data statistik yang impresif dengan persepsi pelaku pasar global harus segera dijembatani melalui narasi yang transparan dan optimisme yang terukur.

​“Fundamental ekonomi kita sebenarnya sangat kuat. Kalau sekarang ada permasalahan terkait trust atau kepercayaan investor, maka kita perlu bersama-sama menjelaskan kondisi yang sebenarnya dan membangun optimisme terhadap perekonomian Indonesia ke depan,” ujar Susiwijono saat memberikan keynote speech.

​Sentimen pasar dunia yang saat ini sangat konservatif akibat ketidakpastian global membuat investor menjadi sangat selektif.

Meskipun PMI Manufaktur nasional kembali berekspansi mantap di level 50 dan cadangan devisa kokoh bertengger di angka USD144,9 miliar—atau setara dengan 5,6 bulan kebutuhan impor—stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi radar utama pertimbangan para pemilik modal.

​Strategi Double-Protection: Mengunci Valas dan Membuka Pasar Global

​Untuk menekan volatilitas dan mempertebal keyakinan pasar, pemerintah mengandalkan integrasi dua kebijakan strategis.

Langkah pertama dijalankan melalui pengetatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Eksportir dari komoditas strategis seperti pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan perikanan diwajibkan menempatkan dolar mereka ke dalam sistem keuangan domestik guna menjaga likuiditas valas nasional.

0 Komentar