CIREBONINSIDER.COM— Kabupaten Cirebon tak pernah kekurangan narasi sejarah. Sebagai episentrum penyebaran Islam di Jawa Barat yang diwariskan oleh Sunan Gunung Jati, wilayah ini memanggul potensi pariwisata budaya yang masif. Namun, sejauh mana warisan masa lalu ini mampu menghidupi dapur para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hari ini?
Pertanyaan kritis itulah yang mengemuka saat ruang rapat DPRD Kabupaten Cirebon “digeruduk” oleh puluhan mahasiswa semester empat Jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas).
Bukan sekadar kunjungan akademik biasa, audiensi yang berlangsung Jumat (12/6/2026) ini berubah menjadi panggung bedah kebijakan publik. Para mahasiswa menantang para legislator Cirebon terkait komitmen nyata mereka dalam mengawal advokasi ekonomi kreatif lokal.
Baca Juga:Keraton Cirebon Dikepung Bangunan Baru, KDM: Urus Lemburnya, Jangan Dulu Berpikir Wisata!Revitalisasi Dukuh Semar: Proyek 'Oasis' Urban Cirebon, Ubah Relokasi Jadi Destinasi Wisata Terintegrasi
Menolak Jadi Menara Gading
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Raden Hasan Basori, yang memimpin audiensi bersama Wakil Ketua Nana Kencanawati dan Ketua Bapemperda Lukman Hakim, tidak menampik tantangan besar dalam menyinergikan potensi wisata dengan kesejahteraan masyarakat bawah.
Hasan menegaskan, lembaganya menolak menjadi “menara gading” yang abai terhadap realitas lapangan. Menurutnya, DPRD memiliki fungsi kultural untuk membaca retakan sosial dan memfasilitasinya lewat regulasi yang membumi.
”Ketika kita bicara UMKM dan ekonomi kreatif di Cirebon, kita tidak bisa melepaskannya dari sektor pariwisata. Ini satu kesatuan. Kita punya modal sejarah yang kuat, tradisi yang hidup. Tantangannya adalah menciptakan multiplier effect (efek berantai) yang riil agar wisatawan yang datang ke sini tidak sekadar berkunjung, tapi juga menggerakkan ekonomi warga lokal,” ujar Hasan menjawab pertanyaan tajam dari Masyarena, salah satu perwakilan mahasiswa Unpas.
Realitas di lapangan menunjukkan, kawasan wisata religi seperti Kompleks Makam Sunan Gunung Jati memang selalu dipadati peziarah.
Namun, konversi kunjungan tersebut menjadi omzet berkelanjutan bagi perajin batik Trusmi, pencipta kuliner lokal, hingga pelaku ekonomi kreatif digital, dinilai kritikus masih berjalan parsial dan belum terintegrasi secara sistemik dalam sebuah masterplan daerah yang kuat.
Sinergi Kampus dan Parlemen: Menguji Komitmen Bapemperda
Di sinilah fungsi legislasi diuji. Ketua Bapemperda DPRD Kabupaten Cirebon, Lukman Hakim, yang turut hadir, menangkap sinyal bahwa formulasi kebijakan daerah ke depan membutuhkan pasokan riset yang objektif. Kehadiran akademisi, seperti FISIP Unpas, diharapkan tidak berhenti pada seremonial foto bersama.
