​Kritik Tren Wisata Religi: Rumah Ibadah untuk Tafakur, Bukan Swafoto
​Sentilan paling tajam dari mantan Bupati Purwakarta ini justru diarahkan pada fenomena social media tourism yang melanda berbagai masjid ikonik di Jawa Barat. Baginya, keindahan visual bangunan luar sering kali mengaburkan esensi utama dari esensi beribadah.
​“Kalau masjid sarana rekreasi bukan sarana spiritualitas, maka masjid hanya akan akan menjadi tempat selfie bukan tempat tafakur,” kritik KDM di hadapan jemaah.
​Bagi Pemprov Jabar, kemegahan fisik bangunan sama sekali tidak berbanding lurus dengan kualitas spiritualitas warganya. Esensi ibadah sejati melekat pada kedalaman hubungan antara makhluk dengan Sang Pemicu kehidupan, bukan pada seberapa viral atau megah tempat yang mereka kunjungi.
Baca Juga:Resmi Dialihkan ke Jabar, RSUD Pantura M.A. Sentot Patrol Bakal Disulap KDM Jadi Pusat Rujukan 3 KabupatenMenag Nasaruddin Umar Bakal Sulap Masjid Jadi Sentra Ekonomi, Targetkan Dana Umat Lebih Produktif
​Esensi Menghadirkan Tuhan dalam Keheningan
​Menutup arahannya, Dedi Mulyadi mengajak masyarakat Jawa Barat untuk kembali ke esensi Islam yang substansial, damai, dan penuh cinta (Islam Cinta), bukan sekadar Islam yang tampak di permukaan secara artifisial.
​”Bertafakur bisa dilakukan di mana saja. Bertafakur di kamar tidur, surau kecil, bawah pohon, tepi sawah, tepi danau, pinggir gunung, tepi samudra. Tempat tak ada makna, yang paling utama adalah keheningan jiwa untuk mampu menghadirkan Tuhan dalam relung jiwa,” pungkasnya.
​Kebijakan berbasis kearifan lokal ini diharapkan mampu menjadi penyeimbang di era modernisasi. Di saat kota-kota besar berlomba membangun menara tinggi, Jawa Barat memilih mengetuk kembali pintu-pintu surau kecil demi menjaga denyut spiritualitas warganya tetap hidup setiap saat.(*)
