CIREBONINSIDER.COM – Denyut nadi perekonomian Jawa Barat sepanjang Triwulan I-2026 menampilkan lanskap yang unik sekaligus kontradiktif.
Di satu sisi, gairah konsumsi masyarakat Tatar Pasundan terpantau sangat agresif, terutama dalam urusan kepemilikan hunian (real estate) serta pemenuhan kebutuhan rumah tangga.
Namun di sisi lain, sektor-sektor fundamental yang menjadi bantalan hidup masyarakat luas, seperti pertanian dan perdagangan, justru sedang menahan diri akibat lonjakan risiko kredit.
Baca Juga:Strategi 'Big State' Prabowo, dari Satgas PHK hingga Kredit Rumah Buruh Bunga 5%Utang Pinjol Warga RI Tembus Rp100 Triliun: OJK Waspadai 'Lampu Kuning' Risiko Kredit
​Fenomena ini terekam jelas dalam catatan kinerja Sektor Jasa Keuangan (SJK) yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat. Meski dinamika ekonomi global dan nasional tengah diselimuti ketidakpastian, stabilitas industri keuangan di Jabar diklaim masih berdiri kokoh.
​Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, mengungkapkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan di wilayahnya tetap berada di level yang sangat solid.
​”Sektor jasa keuangan di Jawa Barat masih mampu menjaga stabilitas dan tumbuh secara positif, meskipun tekanan ekonomi global dan nasional cukup tinggi. Kondisi ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan tetap kuat,” ujar Darwisman dalam laporan resminya, yang dikutip pada Sabtu (6/6/2026).
​Properti Melejit, Dompet Rumah Tangga Masih Tebal
​Jika membedah data penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek di Jawa Barat yang menembus angka fantastis Rp1.047 triliun (tumbuh 1,39 persen year-on-year/YoY), terlihat jelas ke mana arah perputaran uang mengalir.
​Jawa Barat sukses memantapkan posisinya sebagai raksasa ekonomi daerah dengan menggenggam pangsa pasar (market share) kredit nasional sebesar 11,85 persen—terbesar kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta.
​Menariknya, pertumbuhan paling ekspansif justru terjadi di sektor non-usaha. Kredit di sektor Real Estate (properti dan perumahan) melonjak tajam hingga 12,79 persen YoY dengan nilai Rp38,31 triliun.
Hebatnya, agresivitas ini dibarengi dengan tingkat risiko yang sangat aman, di mana rasio Non-Performing Loan (NPL) gross properti terkunci di angka mini, yakni 0,75 persen.
Baca Juga:Ratusan Aduan Masuk OJK, Perempuan Cirebon Kini Jadi Sasaran Empuk Praktik Keuangan IlegalOJK Gedor Mafia Digital: 953 Pinjol Ilegal Dilibas, Dana Rp585 Miliar Berhasil Diselamatkan
​Tak kalah mentereng, pembiayaan Rumah Tangga tetap menjadi penopang utama dengan serapan jumbo mencapai Rp438,16 triliun (tumbuh 4,82 persen YoY, NPL 3,18 persen). Ini menjadi indikator kuat bahwa daya beli dan minat berutang masyarakat Jabar untuk kebutuhan konsumtif masih sangat tinggi.
