​Dedi Mulyadi Buka Suara Soal PHK Cimahi: Garmen Tak Pernah Permanen, Buruh Harus Siap Nomad!

Gubernur-Jawa-Barat-Dedi-Mulyadi
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menanggapi fenomena PHK buruh garmen di Cimahi dan pergeseran kawasan industri. Foto: Screenshot Instagram

CIREBONINSIDER.COM — Isak tangis 178 buruh PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi yang mendadak kehilangan pekerjaan mendadak viral dan memicu simpati publik. Namun, merespons duka pekerja tekstil tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melontarkan analisis tajam yang terkesan ‘pahit’.

​Dedi mengingatkan bahwa industri garmen punya tabiat unik yang wajib dipahami para pekerja. Karakter sektor padat karya ini memang tidak pernah didesain untuk bertahan selamanya di satu lokasi layaknya industri padat modal.

​Begitu pabrik mencapai titik balik modal (break-even point) dan angka UMK di daerah lama dianggap tak lagi rasional bagi operasional bisnis, relokasi adalah keniscayaan yang tak terhindarkan.

Baca Juga:Cetak Biru Industri: Strategi 'Big Bang' Prabowo dari Revitalisasi Garmen hingga Ekosistem SemikonduktorTekan Pengangguran Cirebon-Indramayu, DPRD Jabar Beberkan Syarat Investasi Harus Padat Karya

​”Garmen itu selalu problem. Sektornya padat karya. Kalau sudah break-even point dan ada daerah lain dengan tenaga kerja lebih murah, mereka pasti pindah. Itu siklus alami,” tegas mantan Bupati Purwakarta tersebut saat ditemui di Cimahi.

​Peta Industri Bergeser: Pilih Nomad atau Alih Profesi

​Fenomena PHK massal di Cimahi sejatinya memperlihatkan peta pergeseran kawasan industri di Jawa Barat. Era kejayaan pabrik tekstil di wilayah penyangga lama—seperti Cimahi, Bandung Raya, Karawang, hingga Bandung Barat—kini berangsur redup tergerus tingginya UMK dan biaya operasional.

​Sebagai gantinya, kantong-kantong investasi baru kini tumbuh masif di wilayah lain. Indramayu kini mendadak disandera perburuan puluhan ribu tenaga kerja untuk sektor sepatu dan alas kaki. Majalengka menjelma menjadi pusat pertumbuhan manufaktur baru. Sementara Garut terus membuka keran penyerapan tenaga kerja skala besar.

​Dedi menegaskan, lapangan kerja di sektor tekstil dan alas kaki sebenarnya tidak lenyap, melainkan hanya berpindah koordinat. Solusi paling realistis bagi buruh yang ingin bertahan di industri ini adalah menjadi ‘buruh nomad’ yang siap menyusul pergerakan pabrik.

​”Mau tidak mau, kalau mau tetap bekerja di sektor itu, harus bergeser ke kabupaten lain. Kuncinya harus fleksibel,” imbau Dedi.

​Dilema Sosial Buruh Migran Lokal

​Meski berpindah daerah terlihat mudah di atas kertas, realita di lapangan tentu tak sesederhana itu bagi para buruh.

0 Komentar