CIREBONINSIDER.COM— Keterbatasan lahan di perkotaan kerap jadi alasan mandeknya produksi pangan lokal. Namun, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon punya cara beda: mengubah bekas Tempat Pembuangan Sampah (TPS) menjadi kawasan pertanian terpadu yang subur dan produktif.
Aksi sulap lahan ini berlokasi di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti. Lewat kolaborasi bareng Kelompok Tani (Poktan) Hortipark Agrigardina, lahan terbuang itu kini berganti wajah menjadi pusat pangan berbasis warga.
Ekosistem Tanpa Sisa: Pertanian Terpadu Perkotaan
Bukan sekadar menanam sayur, Hortipark Agrigardina mengusung konsep integrated farming atau pertanian terpadu. Kepala DKP3 Kota Cirebon, Elmi Masruroh, menegaskan bahwa strategi ini menggabungkan tanaman pangan, peternakan, hingga perikanan dalam satu ekosistem yang saling menguntungkan.
Baca Juga:PMAAS Cirebon: Pertaruhan Pertanian Modern 10 Ton Padi di Tengah KemarauPanen Perdana Indramayu Meledak 10,45 Ton Per Hektare, Modernisasi Pertanian Bungkam Skeptisisme
”Lahan yang terbatas di wilayah perkotaan kami optimalkan melalui integrasi program ketahanan pangan, pertanian, peternakan, dan perikanan,” ujar Elmi di Cirebon.
Menurutnya, konsep integrated farming bekerja menyinergikan seluruh elemen budidaya untuk meminimalkan limbah (zero waste) sekaligus mendongkrak produktivitas lahan.
”Hortipark Agrigardina menjadi contoh pengelolaan lahan perkotaan yang melibatkan masyarakat. Ini mendorong kemandirian warga dalam menciptakan kedaulatan pangan berbasis komunitas di tingkat lokal,” tambahnya.
Jurus Ganda: Perangi Stunting dan Stabilkan Harga
Transformasi lahan ini tak bergerak sendirian, melainkan diintegrasikan langsung dengan aksi intervensi gizi dan stabilitas harga pangan di lapangan:
– GPM Pojok Stunting (GPM Posting): Menyalurkan bahan pangan bergizi tinggi seperti ikan segar dan telur ayam langsung kepada keluarga sasaran.
– GPM Mobil Pangan Keliling (GPM Mol Pangling): Layanan jemput bola ke tiap kelurahan demi menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan harian.
”Selain itu, kami mengoptimalkan GPM Mobil Pangan Keliling atau GPM Mol Pangling untuk menjangkau stabilitas pasokan pangan di tingkat kelurahan,” kata Elmi.
Baca Juga:Birokrasi Pupuk Resmi Dipotong Kompas, tapi Mengapa Lahan Pertanian Justru Menghadapi Alarm Bahaya?Adopsi Teknologi Arkansas, Indramayu Targetkan Panen 10 Ton Per Hektar Lewat Pertanian Modern PM-AAS
Inovasi Lokal Jadi Rujukan Jawa Barat
Kombinasi pengelolaan lahan marjinal dan ekosistem distribusi pangan ini rupanya memantik perhatian tingkat regional. Kota Cirebon resmi ditunjuk sebagai lokasi Studi Lapangan Manajemen Kinerja (STULA) Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan II Tahun 2026 oleh BPSDM Jawa Barat.
