Migrasi ke daerah pertumbuhan baru seperti Indramayu atau Majalengka membawa konsekuensi finansial dan sosial yang berat. Standar UMK di daerah industri baru relatif lebih rendah dibanding kota asal seperti Cimahi.
Belum lagi membengkaknya biaya sewa tempat tinggal baru, hingga risiko psikologis harus terpisah dari keluarga.
Alarm bagi Pekerja Padat Karya
Sinyal tegas dari Pemprov Jabar ini menjadi alarm keras bagi para pekerja sektor padat karya. Mengandalkan satu pabrik garmen hingga masa pensiun kini menjadi ekspektasi yang terlampau berisiko.
Baca Juga:Cetak Biru Industri: Strategi 'Big Bang' Prabowo dari Revitalisasi Garmen hingga Ekosistem SemikonduktorTekan Pengangguran Cirebon-Indramayu, DPRD Jabar Beberkan Syarat Investasi Harus Padat Karya
Selain berani bermigrasi antar-wilayah, langkah mendesak bagi para buruh adalah melakukan upskilling atau beralih ke sektor ekonomi kreatif dan jasa. Tanpa adaptasi skill, pekerja akan terus-menerus terjebak dalam pusaran siklus relokasi pabrik yang tiada akhir.(*)
