Warga Gencar Nyicil Rumah, Sektor Tani dan Dagang di Jabar Malah Lesu Terganjal Kredit

Pertumbuhan-Kredit-Perbankan-OJK-Jabar
Infografis data pertumbuhan kredit perbankan dari OJK Jawa Barat Triwulan I-2026 dengan latar belakang gedung sate Kota Bandung. Foto: Ilustrasi/ AI

Sementara di sektor produktif skala besar, Industri Pengolahan juga tumbuh sehat sebesar 6,50 persen YoY dengan nilai Rp170,72 triliun (NPL gross 2,62 persen).

​Alarm Pengaman di Sektor Pertanian, Konstruksi, dan Perdagangan

​Namun, di balik angka-angka pertumbuhan tersebut, OJK memberikan catatan tebal berupa lampu kuning pada tiga sektor produktif: Pertanian (termasuk kehutanan dan perikanan), Perdagangan Besar/Eceran, serta Konstruksi.

​Ketiga sektor ini justru mengalami kontraksi atau penurunan penyaluran kredit yang cukup signifikan:

Baca Juga:Strategi 'Big State' Prabowo, dari Satgas PHK hingga Kredit Rumah Buruh Bunga 5%Utang Pinjol Warga RI Tembus Rp100 Triliun: OJK Waspadai 'Lampu Kuning' Risiko Kredit

– ​Sektor Perdagangan Besar dan Eceran: Menyusut sebesar Rp4,30 triliun.- ​Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: Merosot sebesar Rp3,67 triliun.- ​Sektor Konstruksi: Turun sebesar Rp2,09 triliun.

​Darwisman tidak menampik adanya perlambatan ini. Menurutnya, industri perbankan saat ini jauh lebih berhati-hati dan selektif karena adanya indikasi kenaikan risiko gagal bayar di sektor-sektor unggulan tersebut.

​”Perlambatan penyaluran kredit disebabkan oleh penurunan kredit pada sejumlah sektor, yaitu sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Konstruksi, dan Pertanian Kehutanan Perikanan karena adanya kenaikan risiko kredit pada sektor-sektor unggulan tersebut,” urai Darwisman gamblang.

​Rasio Likuiditas Ketat, OJK Jaga Keseimbangan

​Secara umum, tingkat risiko kredit perbankan di Jawa Barat sebenarnya masih terjaga di bawah ambang batas aman (threshold), dengan rata-rata NPL gross di angka 3,44 persen.

​Kendati demikian, perbankan Jabar tampaknya harus mulai lincah mengatur strategi manajemen likuiditas. Indikator Loan to Deposit Ratio (LDR) Jabar saat ini bertengger di angka 135,27 persen.

Angka ini merefleksikan posisi yang sangat ekspansif sekaligus ketat. Artinya, jumlah kredit yang disalurkan ke masyarakat jauh lebih besar ketimbang Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun oleh bank.

​Menyikapi peta ekonomi kuartal pertama ini, OJK Jawa Barat berkomitmen untuk terus mengawal industri perbankan agar tidak “kapok” menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif, namun dengan manajemen risiko yang jauh lebih presisi.

Baca Juga:Ratusan Aduan Masuk OJK, Perempuan Cirebon Kini Jadi Sasaran Empuk Praktik Keuangan IlegalOJK Gedor Mafia Digital: 953 Pinjol Ilegal Dilibas, Dana Rp585 Miliar Berhasil Diselamatkan

​”OJK Jawa Barat berupaya untuk tetap mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif dengan risiko yang terukur, sehingga pertumbuhan ekonomi daerah dapat terus berlanjut secara berkesinambungan,” tutup Darwisman.(*)

0 Komentar