Guru Jadi Benteng Mutu: Badan Gizi Nasional Luncurkan Radar Digital Penangkis Makanan Basi

Guru-Memeriksa-kelayakan-MBG
Petugas sekolah dan guru sedang memeriksa kelayakan kemasan dan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menggunakan aplikasi ponsel pintar. Foto: Ilustrasi/AI

Sisi positif lainnya juga terlihat dari kedisiplinan logistik, di mana tingkat ketepatan waktu distribusi kurir menembus angka 97,95 persen atau setara dengan 1.672 laporan yang mengonfirmasi makanan tiba tepat waktu bahkan lebih awal.

​Uji sensorik yang dilakukan para guru juga menunjukkan angka performa yang solid. Pada aspek aroma, sebanyak 99,71 persen atau 1.702 laporan menilai hidangan beraroma segar dan normal.

Sementara dari segi visual, kesesuaian standar tampilan dan higienitas kemasan mencapai 99,41 persen melalui 1.697 laporan. Terakhir, dari sektor uji rasa, 98,89 persen atau 1.688 laporan mengonfirmasi cita rasa makanan normal dan dapat diterima dengan baik oleh anak-anak.

Baca Juga:Sinyal Kuat BGN: MBG Bisa Gerakkan Ekonomi Ciayumajakuning, Syaratnya Kampus Harus Turun TanganFilter Ketat di 43 Dapur Gizi Cirebon, Jamin Program MBG Bebas dari "Bom Waktu" Kimia

​Meskipun didominasi rapor hijau, sistem berbasis aplikasi ini sukses menangkap riak masalah minor di lapangan yang langsung ditindaklanjuti sebagai bahan evaluasi operasional.

Radar digital ini berhasil mengidentifikasi 2 laporan makanan tidak layak konsumsi, 35 kasus keterlambatan distribusi armada, 5 catatan aroma tidak sedap, 10 keluhan visual kemasan, serta 19 catatan kritis mengenai kualitas rasa masakan.

​Tameng Kesisteman Anti-Kasus Menonjol

​Di industri pemenuhan pangan berskala nasional, dinamika di lapangan bergerak sangat fluktuatif. Sony Sonjaya tidak menampik bahwa kontrol dari internal saja tidak cukup. Oleh karena itu, skema pengawasan eksternal wajib diperketat agar kualitas hidangan tidak merosot ketika sampai di tangan anak-anak.

​Fakta bahwa sistem mampu menangkap laporan riil terkait adanya makanan tidak layak serta kasus keterlambatan distribusi membuktikan fungsi aplikasi ini berjalan optimal sebagai early warning system.

​BGN menekankan bahwa evaluasi berbasis digital ini tidak bertujuan mencari-cari kesalahan pihak ketiga atau mitra katering. Melainkan, sebagai komitmen serius negara untuk mengeliminasi potensi kejadian menonjol—seperti keracunan makanan—sebelum meluas menjadi polemik publik di kemudian hari.

​”Keterlibatan guru dan Kaposyandu dalam proses evaluasi diharapkan mampu meningkatkan akurasi pengawasan sekaligus menjadi sistem deteksi dini apabila ditemukan potensi masalah dalam distribusi maupun kualitas makanan,” pungkas Sony.

​Lewat integrasi sistem organoleptik berbasis digital ini, Badan Gizi Nasional optimistis dapat terus mengawal standarisasi pemenuhan gizi nasional secara profesional, sekaligus merawat kepercayaan publik (public trust) terhadap keberlanjutan program strategis pemerintah ini.(*)

0 Komentar