Perspektif Arkeologis: Kultus Komemoratif untuk Prabu Siliwangi
Untuk mendapatkan informasi yang berimbang dan valid, komparasi terhadap data akademis mutlak diperlukan. Arkeolog senior Hasan Djafar dalam penelitian monumentalnya berjudul “Prasasti Huludayeuh” yang diterbitkan dalam jurnal Berkala Arkeologi Volume 14 (1994) melalui Kemdiktisaintek, memberikan sudut pandang yang lebih presisi.
Hasan Djafar menjelaskan bahwa penamaan prasasti ini murni diambil dari toponimi lokasi penemuannya. Lebih jauh, kajian epigrafi terhadap teks batu tersebut menunjukkan bahwa Prasasti Huludayeuh erat kaitannya dengan penghormatan (komemorasi) terhadap jasa-jasa besar Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Prabu Siliwangi.
Dalam isi prasasti yang berhasil ditranskripsikan, nama resmi sang raja tertulis dengan jelas: “Ratu Purana Sri Baduga Sri Maharaja Ratu Haji ri Pakwan Sya San Ratu Dewata”.
Baca Juga:Jemput Spirit Pajajaran: Mahkota Binokasih 'Pulang' ke Bogor, Simbol Kebangkitan Identitas Sunda 2026Revolusi Wajah Cirebon, KDM Restorasi 4 Keraton demi Hidupkan Kembali Marwah Tatar Sunda
Siasat Politik Surawisesa di Tengah Gempuran Zaman
Ada plot sejarah yang sangat tajam di sini. Hasan Djafar menganalisis bahwa prasasti ini kemungkinan besar tidak diterbitkan langsung oleh Sri Baduga Maharaja semasa hidupnya.
Dokumen batu ini diprediksi kuat keluar pada masa pemerintahan suksesornya, yaitu Raja Surawisesa yang memerintah medio 1521–1535 Masehi.
”Mengingat prasasti Huludayeuh ini isinya berkenaan dengan usaha memperingati jasa-jasa kebajikan Sri Baduga Maharaja, mungkin sekali prasasti ini tidak dikeluarkan oleh Sri Baduga Maharaja sendiri, melainkan oleh raja penggantinya, yaitu Raja Surawisesa,” tulis Hasan Djafar dalam penelitiannya.
Dalam catatan sejarah, masa pemerintahan Surawisesa adalah fase krusial bagi Kerajaan Sunda yang terus mendapat tekanan politik dari ekspansi Kesultanan Islam di pesisir, termasuk Demak dan Cirebon sendiri.
Penerbitan prasasti yang memuat jasa-jasa Sri Baduga Maharaja di wilayah Dukupuntang ini diduga merupakan langkah politik (legitimasi) untuk menegaskan kembali wibawa dan batas kekuasaan Pajajaran di wilayah timur.
Saat ini, kondisi Prasasti Huludayeuh memang sudah tidak utuh lagi. Beberapa bagian batu telah patah, aus, dan termakan cuaca, membuat sejumlah huruf dan kalimat sulit dibaca secara tekstual.
Kendati demikian, situs ini tetap menjadi jangkar sejarah yang tak ternilai untuk melacak bagaimana relasi kuasa Kerajaan Sunda purba beroperasi di wilayah Kabupaten Cirebon.
