CIREBONINSIDER.COM – Aroma sejarah terasa begitu pekat di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada Sabtu sore, 23 Mei 2026. Tuan rumah Persib Bandung berada tepat di ambang rekor emas yang belum pernah tercipta sepanjang sejarah modern sepak bola tanah air: mencetak hattrick juara kasta tertinggi beruntun.
Menghadapi Persijap Jepara pada laga pamungkas Liga 1 musim 2025/2026, Maung Bandung sejatinya hanya membutuhkan hasil imbang untuk mengunci takhta.
Namun, pelatih Bojan Hodak menegaskan karakter juaranya. Tidak ada kamus bermain aman; Persib tampil mengincar kemenangan mutlak demi menegaskan status mereka sebagai dinasti baru sepak bola Indonesia.
Baca Juga:Bojan Hodak Ngamuk soal Konvoi: Persib Belum Juara, Persijap Punya Senjata Perusak Hattrick!Sihir Thom Haye dan Drama Menit Akhir, Persib Bungkam PSM Makassar 2-1 di Parepare
Sayang, ambisi mengunci pesta lebih cepat tertahan di paruh pertama. Meski Maung Bandung unggul telak dalam statistik penciptaan peluang dan intensitas sepak pojok, papan skor GBLA masih bergeming kosong-kosong hingga peluit turun minum dibunyikan.
Eksperimen Hodak tanpa Marc Klok dan Kembalinya Benteng Italia
Kehilangan kapten tim sekaligus jenderal lapangan tengah, Marc Klok, akibat hukuman akumulasi kartu kuning sempat memicu kekhawatiran di kalangan Bobotoh. Namun, Bojan Hodak merespons situasi krisis ini secara taktis dan jeli.
Absennya Klok ditambal oleh duet jangkar bertenaga, Adam Alis dan Frans Putros, yang berperan sebagai penyeimbang kedalaman skuad. Sementara itu, lini belakang mendapat suntikan angin segar seiring kembalinya bek tangguh asal Italia, Federico Barba.
Berduet dengan Patricio Matricardi, barisan pertahanan Maung Bandung tampil sangat rapat sejak menit awal.
Alur kreativitas serangan Persib diserahkan penuh kepada visi bermain kelas Eropa milik Thom Haye, yang ditopang oleh pergerakan lincah Beckham Putra Nugraha serta Rosembergne “Berguinho” Da Silva. Trio ini bergerak dinamis menyokong pergerakan ujung tombak, Andre Jung.
Gempuran Bertubi-tubi: Dominasi Sepak Pojok dan Tembok Tebal Ardiansyah
Sejak sepak mula, Persib langsung mengambil inisiatif serangan dan mengurung pertahanan Laskar Kalinyamat. Aliran bola yang cepat dari kaki ke kaki memaksa barisan belakang Persijap jatuh bangun dan berulang kali membuang bola ke luar lapangan, menghasilkan rentetan sepak pojok bagi armada Bojan Hodak.
