Pada putaran pertama lalu, Maung Bandung dipaksa pulang dengan kepala tertunduk setelah takluk 1-2 di markas kokoh Persijap.
”Pemain harus siap seratus persen karena Persijap adalah tim yang sangat bagus. Mereka memiliki beberapa hasil impresif dalam beberapa pertandingan terakhir, jadi mereka pasti berbahaya. Ingat, mereka adalah salah satu dari sedikit tim yang bisa mengalahkan kami musim ini,” cetus Hodak menambahkan.
Kutukan Borneo FC dan Benteng Angker GBLA
Kekhawatiran Hodak kian beralasan jika melihat grafik performa terbaru Persijap Jepara. Tim tamu datang ke Bandung dengan predikat sebagai giant killer yang patut diwaspadai.
Baca Juga:Sihir Thom Haye dan Drama Menit Akhir, Persib Bungkam PSM Makassar 2-1 di ParepareUjian Mental Juara Persib di Parepare: Badai Absensi, Duka Hodak, dan Misi Kunci Mahkota Super League
Pada laga sebelumnya, tim asal Jawa Tengah ini sukses menahan imbang Borneo FC Samarinda dengan performa defensif yang luar biasa. Hasil imbang tersebut secara langsung merusak skenario Pesut Etam untuk mengudeta Persib lebih awal, sekaligus memaksa drama perebutan juara harus diselesaikan hingga detik terakhir pekan ke-34.
Kendati demikian, Persib sejatinya memiliki modal psikologis yang mengerikan saat bermain di hadapan publik sendiri. Sepanjang musim ini, Stadion GBLA bertransformasi menjadi neraka jahanam bagi tim tamu.
Rekor kandang Maung Bandung sangat mentereng: mengemas 16 kemenangan dan hanya satu kali mencatatkan hasil imbang dari 17 laga kandang.
Hanya saja, ujian konsistensi Persib sedikit terganggu oleh problem kedalaman skuad. Menjelang laga penentuan ini, beberapa pilar inti dipastikan absen akibat hukuman akumulasi kartu serta proses pemulihan cedera jangka pendek.
Walau kehilangan beberapa pilar, Hodak menjamin mesin timnya tetap panas. “Kondisi semua pemain yang tersedia sangat bugar. Kami sangat siap bertempur habis-habisan,” tegasnya.
Federico Barba: Logika Dingin Italia di Tengah Gairah Bandung
Sikap tenang dan penuh kewaspadaan tinggi juga ditunjukkan oleh palang pintu asing andalan Persib, Federico Barba. Pemain bertahan asal Italia yang kenyang pengalaman di atmosfer kompetitif Eropa ini memilih mengisolasi diri dari kebisingan ekspektasi suporter yang mulai larut dalam euforia.
Bagi Barba, memimpin klasemen di laga pamungkas merupakan keuntungan luar biasa yang memang mereka perjuangkan mati-matian sejak peluit pertama musim bergulir. Namun, dalam kamus sepak bola Italia yang dianutnya, tugas mengawal lini pertahanan belum selesai sebelum peluit panjang dari wasit ditiupkan.
