Menakar Taji Kadin Kota Cirebon 2025-2030: Jembatan Ekonomi Inklusif atau Seremonial Metropolitan Rebana

Wali-Kota-Cirebon-Effendi-Edo-dan-Eti-Herawati
Wali Kota Cirebon Effendi Edo bersama Ketua Kadin Kota Cirebon Eti Herawati dan Ketua Kadin Jabar Almer Faiq Rusydi saat prosesi pengukuhan pengurus di Balai Kota Cirebon. Foto: Humas Pemkot Cirebon

​Eti menambahkan, fokus jangka pendek kepengurusannya akan bertumpu pada pemberdayaan pengusaha muda dan penguatan struktur UMKM. Melalui mekanisme Rapat Pimpinan Kota (Rapimkota) yang akan segera digelar, Kadin berjanji merumuskan program kerja yang langsung menyasar pasar nasional hingga global.

Tiga Ujian Konsistensi di Jalur Pantura

​Untuk menerjemahkan visi besar tersebut, kepengurusan Kadin periode 2025–2030 setidaknya harus mampu menjawab tiga rapor merah yang menjadi titik kritis ekonomi Kota Cirebon saat ini:

– ​Pertama, mentransformasi pilar PDRB. Kontribusi raksasa sektor jasa dan perdagangan sebesar 27,31 persen harus mulai digeser orientasinya. Kadin ditantang tidak hanya mengandalkan konsumsi lokal, melainkan meningkatkan kualitas nilai ekspor komoditas daerah ke pasar luar.

Baca Juga:Cirebon-Yangjiang Perkuat Sister City: Fokus Hilirisasi Perikanan dan Pertanian di Kawasan RebanaWarisan Putri Ong Tien Berlanjut, Cirebon Gandeng Tiongkok Sulap Kawasan Rebana Jadi Pusat Ekonomi Biru

– ​Kedua, merombak struktur populasi usaha. Angka gemuk 5.353 unit bisnis di Cirebon didominasi oleh pelaku usaha kecil. Target Kadin lima tahun ke depan adalah melakukan scaling up alias program naik kelas massal bagi UMKM agar sepenuhnya masuk dan berdaya saing di ekosistem digital nasional.

– ​Ketiga, mengoptimalkan posisi geopolitik. Berada di jalur utama Koridor Pantura tidak lagi cukup jika hanya menjadi penonton. Kadin harus mampu mengintegrasikan potensi lokal Cirebon agar bisa menjadi hub logistik utama yang menyuplai rantai industri di kawasan raksasa Metropolitan Rebana.

​Keberhasilan Eti Herawati memimpin Kadin Kota Cirebon lima tahun ke depan tidak akan dinilai dari megahnya acara pengukuhan di Balai Kota, melainkan dari seberapa besar serapan tenaga kerja lokal dan seberapa tangguh UMKM Cirebon bertahan dari gempuran disrupsi pasar.

​Publik kini menanti, apakah sinergi pentaheliks yang digungkan ini akan menjelma menjadi kesejahteraan nyata di akar rumput, atau hanya sekadar barisan jargon di atas kertas kerja.(*)

0 Komentar