Strategi Inklusi Digital: FKDC Cirebon Dobrak Stigma, Ubah Narasi Disabilitas dari Akar Rumput

FKDC-Cirebon
FKDC Cirebon, SIGAB Indonesia, dan Diskominfo bersinergi dalam Kelas Pelatihan Dokumentasi di Hotel Santika Cirebon, Selasa (12/5). Foto: Humas Pemkab Cirebon

​CIREBONINSIDER.COM — Paradigma lama yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai objek rasa kasihan mulai didekonstruksi secara total. Forum Komunikasi Disabilitas Cirebon (FKDC) kini memilih jalur narasi digital dan dokumentasi sistematis sebagai instrumen “perlawanan” terhadap stigma negatif.

Melalui pelatihan penulisan produk dokumentasi di Hotel Santika Cirebon, Selasa (12/5), FKDC membuktikan bahwa gerakan inklusi di tingkat akar rumput hanya akan menjadi “rahasia” jika tidak diarsipkan secara profesional.

Kegiatan ini menggandeng tenaga ahli dari Diskominfo Kabupaten Cirebon serta Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia.

Baca Juga:Tak Perlu Antre Lagi, Warga Indramayu Kini Bisa Cek Tagihan dan Lapor Bocor lewat Aplikasi Banyu DigitalTak Cuma Modal, Menko Airlangga: UMKM Harus "Melek Risiko" Digital demi Kesejahteraan Nyata

Rebranding: Menonjolkan Karya, Bukan Keterbatasan

​Sekretaris FKDC, Oni Jahoni, mengungkapkan kegelisahan organisasinya terhadap banyaknya capaian di lapangan yang menguap tanpa jejak.

Baginya, kelemahan dalam pengarsipan narasi, foto, dan video adalah hambatan besar dalam memperjuangkan hak-hak difabel secara struktural.

​“Kami menyadari banyak sekali praktik baik yang sudah dicapai teman-teman. Namun, karena keterbatasan pemahaman dokumentasi, keberhasilan itu sering terlupakan,” ujar Oni dengan nada reflektif.

​Lebih jauh, Oni menekankan urgensi perubahan cara pandang masyarakat. “Dokumentasi yang kami bangun harus bermartabat. Kita tonjolkan kemampuan, kontribusi, dan hasil karya teman-teman disabilitas. Bukan lagi soal rasa kasihan,” tegasnya.

Menjemput Suara dari Desa

​Senada dengan hal itu, Perwakilan SIGAB Indonesia, Robandi, melihat ada banyak “permata tersembunyi” di pelosok desa di Kabupaten Cirebon.

Berbagai inovasi mandiri yang dilakukan komunitas disabilitas desa seringkali tidak tersentuh radar publik karena minimnya literasi publikasi.

“Saya yakin banyak usaha luar biasa di desa yang harus ditunjukkan kepada dunia. Dokumentasi yang kuat adalah landasan bukti bahwa perubahan sosial itu benar-benar terjadi,” jelas Robandi.

Baca Juga:Inklusi Bukan Jargon! 32 Difabel Cirebon Sukses Tembus Industri Formal lewat Program SOLIDERAwas Bumerang Regulasi! Kemenag Rilis 4 Pedoman Pendidikan Inklusif, Status Guru Pembimbing Khusus Digugat

​Ia menambahkan, penggunaan media digital secara cerdas akan menjadi panggung strategis bagi gerakan inklusi untuk mendapatkan apresiasi serta dukungan kebijakan yang lebih luas.

Membangun Akuntabilitas Lewat Literasi

Selain menjadi alat advokasi, literasi dokumentasi ini diproyeksikan sebagai bagian dari tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel. Peserta dibekali teknik bahasa inklusif—sebuah standar komunikasi modern yang menghargai martabat manusia tanpa diksi diskriminatif.

0 Komentar