Keberhasilan di Jogjogan Bogor ini diharapkan menjadi cetak biru (blueprint) bagi wilayah lain, termasuk potensi replikasi di wilayah Cirebon dan sekitarnya (Ciayumajakuning).
Mengingat Cirebon memiliki karakteristik geografis dan jumlah sekolah yang padat, penerapan standar chef BNSP bisa menjadi solusi agar kualitas MBG tidak “jomplang” antar wilayah.
“Harapan saya, standar penggunaan tenaga profesional ini terjaga secara merata di seluruh wilayah. Kualitas tetap menjadi prioritas utama. Dengan koki yang kompeten, kita lebih yakin bahwa setiap rupiah anggaran benar-benar berubah menjadi gizi berkualitas bagi generasi mendatang,” pungkas Didin.(*)
