Rantai Pasok Global Terganggu, 'Bungkus' Plastik Kini Jadi Beban Baru UMKM Jalur Pantura

Harga-Plastik-Naik
Pedagang UMKM di Pantura Cirebon melayani pembeli di tengah kenaikan harga plastik 2026. Foto: Ilustrasi/AI

CIREBONINSIDER.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini tidak lagi menjadi isu global yang jauh dari telinga, melainkan telah menjelma menjadi beban nyata di kantong para pedagang kecil.

Kenaikan harga bahan baku plastik di pasar domestik mulai mencekik sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama mereka yang menggantungkan operasionalnya pada kemasan sekali pakai.

​Ketergantungan Impor Jadi Titik Lemah

​Anggota Komisi VII DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo, mengungkapkan bahwa gejolak harga ini dipicu oleh terhambatnya pasokan nafta—komponen utama petrokimia—akibat konflik berkepanjangan di kawasan penghasil energi dunia. Indonesia, yang masih mengandalkan 60 persen bahan baku plastik dari jalur impor, menjadi sangat rentan terhadap guncangan tersebut.

Baca Juga:Efek Domino Perang Iran-Israel Hantam Cirebon, Harga Plastik Meroket 100% Bikin Napas UMKM Kian TersengalMuara Sampah Plastik di Pantai Baro Gebang, Bupati Cirebon Ultimatum Kebiasaan Buang Sampah ke Sungai

​”Tekanan global kini tidak lagi berhenti di sektor energi atau industri besar, tetapi sudah merasuk ke biaya produksi paling dasar bagi usaha rakyat,” ujar Yoyok dalam keterangan resminya, Senin (13/4/2026).

​Menurut politisi Fraksi Partai NasDem tersebut, tingginya ketergantungan pada rantai pasok global membuat inflasi menjalar cepat ke komoditas turunan.

Dampaknya kini dirasakan masyarakat secara luas, mulai dari kenaikan harga pangan hingga fenomena penyusutan ukuran produk konsumsi.

​Jeritan Pedagang di Jalur Pantura

​Realitas pahit ini ditemukan langsung di lapangan. Para pelaku UMKM di sepanjang jalur Pantura, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, mulai mengeluhkan biaya operasional yang tak lagi seimbang dengan pendapatan.

​Bang Doel, pemilik gerai ‘Chicken Kembar’, mengaku sempat berhenti berjualan selama dua hari akibat kebingungan mengelola modal. Kenaikan harga plastik pembungkus yang drastis membuatnya berada di posisi sulit.

​”Dua hari kemarin saya terpaksa tutup. Bingung karena harga plastik dan bahan-bahan naik semua. Hari ini coba jualan lagi dengan harga sedikit dinaikkan, tapi pelanggan langsung komplain,” ungkap Bang Doel dengan raut wajah pasrah.

​Keresahan serupa dirasakan Mang Muk, seorang penjual tahu petis. Ia harus memutar otak lebih keras agar margin keuntungan tidak habis hanya untuk membeli plastik kemasan. Baginya, setiap rupiah kenaikan bahan penunjang sangat berpengaruh pada kelangsungan dapurnya di rumah.

0 Komentar