Bantah Isu Fiskal Jebol, Menkeu Purbaya Buka-bukaan soal Nasib Rupiah di Depan Investor AS

Menkeu-Purbaya-Yudhi-Sadewa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berbicara di hadapan investor New York mengenai kekuatan fiskal dan stabilitas Rupiah 2026. Foto: Humas Kemenkeu

CIREBONINSIDER.COM – Di tengah sorotan tajam lembaga pemeringkat internasional, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melakukan aksi “gerilya diplomasi” di pusat keuangan dunia, New York dan Washington DC.

Langkah taktis ini diambil guna membedah sekaligus menepis berbagai isu miring (noise) terkait kesehatan fiskal Indonesia yang belakangan menghantui para pemodal kakap Amerika Serikat.

​Dalam pertemuan strategis di Peninsula Hotel New York, Purbaya mengonfirmasi adanya keraguan investor akibat narasi negatif yang beredar.

Baca Juga:Bahlil Sebut Arahan Prabowo soal Investor: Kalau Tidak Melanggar, Pulihkan HaknyaSinyal Darurat Fiskal Jabar, Gubernur Dedi Mulyadi Ingatkan Kinerja ASN Bukan soal Absensi tapi Hasil

Namun, ia menegaskan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia di bawah komando Presiden Prabowo Subianto justru berada dalam kondisi paling tangguh.

​Menantang Penilaian “Prematur” Lembaga Rating

​Purbaya secara terbuka mengkritisi langkah beberapa lembaga pemeringkat internasional yang terburu-buru memberikan outlook negatif bagi Indonesia. Menurutnya, penilaian tersebut dilakukan secara prematur sebelum data ekonomi terkini tersaji secara utuh.

​”Kebijakan fiskal kita sudah pada arah yang benar. Mereka (investor) hanya butuh kepastian bahwa noise fiskal bermasalah itu tidak benar. Sebagai orang pintar, mereka akhirnya menerima penjelasan kita yang berbasis teori ekonomi kuat,” tegas Purbaya.

​Indonesia Tak Butuh “Penyelamatan” IMF

​Kekuatan finansial Indonesia juga dipamerkan saat Purbaya bertemu Managing Director IMF, Kristalina Georgieva.

Di saat banyak negara berkembang mulai goyah akibat ketegangan geopolitik dan fluktuasi energi, Indonesia justru menunjukkan kemandiriannya.

​Purbaya mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki bantalan fiskal sebesar Rp420 triliun, sebuah angka yang lebih dari cukup untuk meredam guncangan eksternal tanpa harus bergantung pada bantuan dana internasional.

​”IMF menyiapkan dukungan dana, tapi tentu saja Indonesia tidak membutuhkan itu. Anggaran kita sangat sehat,” imbuhnya.

Baca Juga:Menakar Urgensi Penghapusan Dana Pensiun Legislator: Antara Beban Fiskal dan Keadilan SosialCoretax Jadi 'Lapak' Joki SPT, Menkeu Purbaya Bongkar Borok Desain: Kita Betulkan!

​Ujian Nyata: Melampaui Narasi ke Implementasi

​Meski diplomasi di AS dianggap sukses meredam kekhawatiran jangka pendek, pengamat ekonomi dari CORE, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya ada pada konsistensi.

​”Investor akan memantau apakah setelah pertemuan ini ada langkah konkret, seperti reprioritisasi belanja yang realistis. Pasar tidak hanya melihat angka, tapi kualitas kebijakan agar defisit tidak melebar di tengah normalisasi harga komoditas,” jelas Yusuf kepada media.

0 Komentar