Transformasi Digital Jadi Tantangan Mendes PDT dan Peta Jalan Ekspor Tanggamus

Mendes-PDT-Yandri-Susanto
Mendes PDT Yandri Susanto saat menerima audiensi Pj Bupati Tanggamus Moh Saleh Asnawi di Jakarta, bahas digitalisasi dan ekspor produk BUMDes. Foto: Humas Kemendes PDT

CIREBONINSIDER.COM – Transformasi digital di level pedesaan kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis untuk bertahan di pasar global.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menegaskan bahwa digitalisasi adalah instrumen utama untuk memutus isolasi pasar yang selama ini mencekik produk lokal.

​Dalam audiensi strategis bersama Penjabat (Pj) Bupati Tanggamus, Lampung, Moh. Saleh Asnawi, di Jakarta Barat (1/4/2026), Mendes Yandri menekankan bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak lagi diukur hanya dari kemegahan fisik sarana dan prasarana, melainkan dari sejauh mana produk desa tersebut mampu “berbicara” di kancah nasional maupun internasional melalui ekosistem digital.

Baca Juga:Wamendes PDT Dorong Perguruan Tinggi di Cirebon Turut Berperan Aktif Bangun Kemajuan DesaKopdes Merah Putih Tak akan Mematikan Bumdes, Justru Menguatkan, Ini Penjelasan Mendes PDT

​Visi Ekspor: Membangun ‘Trust’ lewat Konten Kreatif

​Mendes Yandri menyoroti bahwa media sosial harus bertransformasi dari sekadar alat komunikasi menjadi etalase ekonomi.

Menurutnya, kepercayaan konsumen (consumer trust) di era ekonomi digital dibangun melalui narasi dan konten kreatif yang mampu merepresentasikan kualitas produk desa.

​”Digitalisasi itu penting. Melalui media sosial, orang luar negeri bisa tahu jika produk kita menarik. Namun, membangun sarana tanpa strategi pemasaran digital yang kuat adalah investasi yang pincang,” ujar Yandri Susanto.

​Kritik Data: Syarat Mutlak Intervensi Kebijakan

​Satu poin krusial yang menjadi catatan bagi Pemerintah Kabupaten Tanggamus adalah tuntutan akurasi data potensi.

Mendes meminta daerah tidak hanya menyajikan data permukaan, tetapi pemetaan mendalam pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

​Pemerintah pusat menyaratkan adanya Desa Tematik—seperti desa wisata atau hortikultura—sebagai dasar prioritas bantuan teknis dan pendanaan.

Hal ini menjadi tantangan bagi Tanggamus untuk segera melakukan validasi data agar bantuan dari Kementerian Desa benar-benar tepat sasaran dan berkelanjutan.

Baca Juga:Tok! Permendes 16/2026 Terbit: Ini 8 Fokus Baru Dana Desa dan Larangan Keras bagi Kades!Reformasi Pajak Mendesak, Dedi Mulyadi Kritik Sentralistik: Jabar Hanya Kebagian Rp140 T vs Jakarta Rp1.000 T

​Optimalisasi BUMDes Sebagai Agregator Ekonomi

​Hilirisasi dari arahan Mendes ini adalah penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai motor penggerak desa ekspor.

Produk unggulan Tanggamus—seperti Kopi Robusta dan komoditas perkebunan lainnya—memiliki peluang besar untuk menembus pasar global jika dikelola dengan standar digitalisasi yang profesional.

​Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang mendukung pelaku usaha skala kecil di desa untuk naik kelas, tidak hanya menjadi penonton dalam rantai pasok ekonomi nasional.(*)

0 Komentar