CIREBONINSIDER-COM – Di balik kemegahan tembok bata merah Keraton Kasepuhan, sebuah pesan mendalam bagi masa depan Jawa Barat sedang disuarakan.
Rabu (1/4/2026), Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Sophi Zulfia, bersama jajaran Forkopimda melakukan napak tilas sejarah dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-544 Kabupaten Cirebon.
Namun, kegiatan ini bukan sekadar protokoler tahunan. Di usia yang melampaui lima abad, Cirebon sedang berada di persimpangan jalan: menjaga kesakralan identitas atau larut dalam derasnya arus industrialisasi.
Baca Juga:Hari Jadi Ke-544 Kabupaten Cirebon: DPPKBP3A Sasar Ketahanan Keluarga lewat Layanan MKJP GratisGibran di Tegal, Instruksi Sertifikat 1 Hari Jadi dan Larangan Balik ke Rumah Zona Merah
Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Alarm Karakter
Mengusung tema “Teteg lan Tutug”, peringatan tahun ini menjadi momentum krusial. Sophi Zulfia menegaskan bahwa langkah kaki mereka di koridor Keraton Kasepuhan hingga pelataran Makam Sunan Gunung Jati adalah upaya sinkronisasi batin antara pengambil kebijakan dengan akar sejarah daerah.
”Cirebon bukan sekadar titik koordinat di peta Jawa Barat. Ini adalah tanah para wali dan pusat peradaban. Napak tilas ini adalah pengingat bagi kami di pemerintahan bahwa fondasi pembangunan SDM harus sekuat akar sejarah kita. Kita tidak boleh membangun masa depan dengan amnesia terhadap masa lalu,” tegas Sophi dengan nada reflektif.
Menyelaraskan ‘Teteg lan Tutug’ dengan Realitas Sosial
Secara filosofis, Teteg lan Tutug bermakna ketuntasan dalam melangkah. Dalam konteks modern, hal ini diterjemahkan sebagai komitmen untuk menyelesaikan persoalan mendasar masyarakat:
– Akselerasi Ekonomi: Mewujudkan kesejahteraan yang merata di sektor pesisir hingga agraris.
– Ketahanan Budaya: Menjadikan situs sejarah seperti Keraton Kasepuhan sebagai pusat gravitasi ekonomi kreatif bagi generasi muda.
– Sinergi Birokrasi: Memastikan gotong royong antara DPRD dan eksekutif bukan sekadar slogan, melainkan solusi konkret bagi pendidikan dan kesehatan.
Ziarah dan Visi Politik Masa Depan
Puncak napak tilas berakhir di Makam Sunan Gunung Jati. Ziarah ini menjadi simbol bahwa kepemimpinan di Cirebon harus mengadopsi nilai-nilai luhur sang tokoh: mengayomi, religius, namun tetap progresif dalam diplomasi dan perdagangan.
Baca Juga:Sulap Pelabuhan Cirebon Jadi Destinasi Wisata Bahari Unggulan, Pemkot Gandeng PelindoHari Jadi Cirebon Ke-598, Wali Kota Apresiasi Kebersamaan Semua Pihak Bangun Kota Cirebon
Bagi publik, peringatan ke-544 ini adalah janji. Apakah semangat dari Keraton Kasepuhan akan bertransformasi menjadi kebijakan nyata yang pro-rakyat di meja sidang DPRD, atau hanya berakhir sebagai dokumentasi di media sosial?
