Menurut Susi, umumnya lokasi kru berbasis di Jakarta. Hal itu akan menyulitkan operasional penerbangan besar. Karena jika perjalanan kru ke Kertajati ditempuh lewat darat maka bisa memakan waktu panjang hingga empat jam.
Hal itu, kata Susi, tentu akan membuat kru kehilangan waktu penerbangan. Ia juga menyebutkan bahwa jam kerja pilot hanya sembilan jam. Karena itu tidak mungkin di paksakan, dan kondisi ini menurutnya perlu dicarikan jalan keluar.
Susi lebih lanjut menjelaskan bahwa untuk mengatasi masalah itu, satu-satunya jalan perlu dibuka rute dari Halim ke Kertajati dulu untuk mengangkut kru pesawat.
Baca Juga:Pengelola BIJB Klaim Rute Kertajati Singapura PP Masih Diminati PenumpangKDM Siap Sanksi RSUD Cibabat Jika Terbukti Abaikan Pasien BPJS hingga Meninggal
“Itu tidak mungkin karena lamanya dia terbang sehari, di mana jam kerja pilot hanya sembilan jam. Karenanya harus ada rute dari Halim ke Kertajati dulu untuk mengangkut kru pesawat,” ujarnya.
Susi juga menambahkan bahwa rute tujuan Halim-Kertajati khusus disiapkan untuk kru-kru maskapai besar. Kemudian tujuan lainnya adalah sebagai moda pengumpan, dengan bisa ditambahkan juga tujuan Pangandaran ke depannya.
“Kalau ada dari lima kota masuk kan paling tidak masing-masing 6 orang aja ada 30. Pasti Airline juga ruginya tidak terlalu besar mulai masuk di Kertajati. Kalau sekarang mau ngangkut apa ke sana? Orangnya tidak ada yang datang,” ucap dia.
Untuk diketahui, penerbangan domestik di BIJB Kertajati sejak tanggal 2 Juni 2025 sudah berhenti. Karena keterbatasan armada, tepatnya di tanggal tersebut maskapai Super Air Jet yang melayani penerbangan ke Medan, Denpasar dan Balikpapan (Kalimantan Timur) berhenti beroperasi dari dan ke BIJB Kertajati.
Meskipun demikian, Bandara Kertajati masih melayani satu penerbangan internasional menuju Singapura yang terbang tiap Selasa dan Sabtu oleh maskapai Scoot. (*)
