Stabilitas keamanan pesisir juga dikokohkan oleh aliansi “Gegedeng Pesisir”, yang melibatkan figur-figur sentral seperti Ki Buyut Tambangan, Ki Gede Ujung Anom, Ki Pati Waringin, Nyi Gede Manukan, hingga Ki Gede Tersana di Kertasemaya, Indramayu.
Asal-Usul Tradisi Ngunjung dan Jamuan Gotong Royong Tuan Rumah
Ikatan emosional dan intelektual yang kuat melahirkan tradisi kerinduan yang abadi. Setiap tahun, para alumni santri yang telah tersebar di berbagai penjuru merasa terpanggil untuk kembali “mengunjungi” (ngunjung) sang guru. Dari sinilah tradisi tahunan tersebut bermula.
Sebagai tuan rumah yang memuliakan para tamunya, Syekh Magelung Sakti secara arif berupaya menyambut dan menghormati mereka. Beliau bersama para santri dan warga sekitar bergotong royong menyiapkan berbagai jamuan istimewa.
Baca Juga:Dari Kata 'Afwun' Jadi Tradisi Jawa: Rahasia Filosofi Apem dan Dakwah Kiai Ageng GribigMenguak Misteri Ki Buyut Selawe Cirebon: Kisah 'Kebo Bule' dan Logika Mistis Lepasnya Timor Leste
Tradisi gotong royong ini diwujudkan melalui penyajian tumpeng hasil panen bumi serta dodol—sajian kue tradisional khas berbahan tepung beras ketan dan sari pati kelapa yang dicampur gula merah—yang kemudian dilengkapi pula dengan prosesi penyembelihan hewan kerbau.
Secara sosiologis, siklus tradisi ini turut mencerminkan sejarah pemekaran wilayah. Menurut Ustadz Wahyu, Juru Kunci Makam Ki Krayunan-Nyi Selawe, puncak upacara Ngunjung dilakukan secara serentak oleh warga Desa Karang Kendal dan Desa Grogol, mengingat kedua wilayah ini dulunya adalah satu kesatuan historis bernama Karang Brai.
Kemeriahan ini kemudian berlanjut secara beruntun di desa-desa penyangga seperti Pegagan Kidul, Pegagan Lor, Dukuh, dan Kroya.
Rangkaian Ritual dan Elemen Inti Tradisi Ngunjung
Pelaksanaan upacara adat Ngunjung memadukan aspek spiritualitas Islam dengan kearifan lokal yang tertata dalam tiga pilar utama kegiatan:
Pertama, Niat dan Doa (Tawassul): Ribuan peziarah memadati area makam untuk membaca zikir, surat Yasin, dan tahlil bersama sebagai wujud bakti (birrul walidain) sekaligus sarana kontemplasi kematian.
Kedua, Prosesi Arak-arakan (Bawa Bura / Sedekah Bumi): Warga bergotong royong mengarak tumpeng, dodol, makanan tradisional, serta hasil bumi dari pemukiman menuju kompleks makam.
Ketiga, Makan Bersama (Bancakan / Kembul Buzuri): Seluruh sajian dikumpulkan untuk disantap bersama tanpa sekat strata sosial, menegaskan prinsip kesetaraan di hadapan Sang Pencipta.
