​Dari Kata 'Afwun' Jadi Tradisi Jawa: Rahasia Filosofi Apem dan Dakwah Kiai Ageng Gribig

Kirab-Gunungan-Apem-tadisi-Grebeg-Yaa-Qawiyyu
Kirab gunungan apem dalam tradisi Grebeg Yaa Qawiyyu Jatinom Klaten yang diarak warga berbusana tradisional di tengah kerumunan massa. Foto: Istimewa/ Doc Kemenko Perekonomian 

CIREBONINSIDER.COM -​ Kue apem kerap hadir dalam berbagai ritual adat Jawa. Bentuknya sederhana, terbuat dari adonan tepung beras, santan, dan gula. Namun, di balik rasa gurihnya, tersimpan sejarah diplomasi budaya yang sangat genius.

​Penganan tradisional ini menyimpan jejak dakwah ulama besar abad ke-17 dan filosofi mendalam tentang pentingnya saling memaafkan.

​Diserap dari Kata ‘Afwun’: Strategi Bahasa Ulama Jawa

​Secara etimologi, nama “apem” tidak lahir begitu saja. Kata ini diserap dari bahasa Arab, yaitu Afwun, yang berarti ampunan atau memaafkan.

Baca Juga:​Bukan Cuma Ritual 4 Abad, Yaa Qawiyyu Jatinom Sukses Ledakkan Ekonomi Warga KlatenHadiri Sedekah Laut di Desa Citemu, Pj Bupati Cirebon: Ini Tradisi yang Harus Terus Dijaga

​Masyarakat Jawa pada masa itu kesulitan melafalkan kata Afwun secara presisi. Lidah lokal kemudian menyederhanakannya menjadi kata “Apem”.

​Penyederhanaan istilah ini diinisiasi oleh Kiai Ageng Gribig, atau Syekh Wasibagno Timur. Ulama besar ini merupakan garis keturunan langsung dari Raja Majapahit terakhir, Brawijaya V.

​Lewat kue apem, Kiai Ageng Gribig mengajarkan nilai-nilai Islam dengan cara yang sangat lembut. Beliau mengajak masyarakat untuk saling memaafkan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta tanpa paksaan.

​Kisah Oleh-Oleh dari Tanah Suci

​Cerita tutur masyarakat mencatat, tradisi ini bermula saat Kiai Ageng Gribig pulang dari menunaikan ibadah haji di Mekkah.

​Beliau membawa oleh-oleh berupa kue khas Arab untuk dibagikan kepada murid dan warganya. Namun, jumlah kue yang dibawa ternyata tak sebanding dengan banyaknya warga yang datang menyambut.

​Demi keadilan dan kepemerataan, Kiai Ageng Gribig meminta sang istri membuat adonan kue baru berbasis tepung beras.

​Kue buatan lokal tersebut kemudian dimasak, dibagi-bagikan kepada warga, seraya menggemakan doa: Yaa Qawiyyu (Wahai Yang Mahakuat).

Baca Juga:Transformasi Dakwah Digital MWC NU Kapetakan: Jaga Tradisi, Sambut InovasiWajah Baru 'Ngencar': Tradisi Sunatan Massal Maleber Kuningan Jadi Simbol Kekuatan Ekonomi Perantau

​Sejak saat itu, tradisi membagikan apem menjadi simbol kepedulian sosial, keikhlasan, dan rasa syukur.

​Simbolisme Bahan dan Pesan Moral

​Penggunaan bahan-bahan sederhana pada kue apem juga menyimpan makna filosofis yang sangat kuat:

– ​Tepung Beras: Makanan pokok rakyat yang melambangkan kerendahan hati dan kesederhanaan.

– ​Proses Pengukusan: Simbol kesabaran serta keteguhan hati dalam menjalani ujian hidup.

– ​Pembagian Massal: Simbol hilangnya sekat sosial—kaya maupun miskin menikmati hidangan yang sama.

0 Komentar