CIREBONINSIDER.COM — Ada yang beda dari gaya pergerakan mahasiswa di Cirebon kali ini. Tanpa pengeras suara berisik atau blokade jalanan, puluhan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cirebon memilih mendatangi Pemkab Cirebon tepat di jantung kekuasaannya: Pendopo Bupati.
Lewat forum Movement Economic Summit (MES) pada Selasa (29/9/2026), PMII melempar isu krusial yang selama ini menjadi penyakit kronis banyak daerah: ketergantungan akut pada dana transfer dari pemerintah pusat.
Pesan yang disampaikan lugas dan menohok. Daerah tidak boleh terus-menerus memelihara mentalitas “menunggu jatah”. Cirebon harus punya keberanian menciptakan momentum ekonominya sendiri.
Baca Juga:Sengatan Hasan Basori di PKD PMII UNU Cirebon: Ayo Jadi Menteri atau Bupati, Indonesia Butuh Orang Baik!Bukan Debat Kusir, PMII Cirebon Cetak Instruktur Berbasis Data untuk Kawal Kebijakan Daerah
Jebakan Ketergantungan dan Realitas PAD Cirebon
Sentilan PMII bukan tanpa alasan. Realitas fiskal di berbagai daerah, termasuk kawasan Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuning), sering kali masih ditopang penuh oleh Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari APBN.
Ketika porsi Pendapatan Asli Daerah (PAD) kalah dominan dibanding dana perimbangan, ruang gerak pembangunan otomatis terbatas. Pembangunan lokal mendadak tersendat tiap kali kebijakan fiskal di tingkat nasional mengalami pengetatan.
”Kita jangan hanya menunggu momentum dari pusat. Kita harus membentuk dan menciptakan momentum sendiri untuk kemandirian ekonomi daerah,” tegas Ketua PC PMII Cirebon, Ruslan Baidhowi Kamal.
Menurut Ruslan, jalan keluar satu-satunya adalah keberanian menggali potensi pendapatan baru. Penguatan PAD dan pemetaan sektor ekonomi segar harus berjalan sejajar, bukan sekadar menggantungkan nasib pada rutinitas anggaran tahunan.
Raksasa Ekonomi yang Masih Tertidur
Secara pemetaan wilayah, Kabupaten Cirebon sebenarnya berdiri di atas potensi raksasa. Wilayah ini memegang posisi kunci sebagai simpul logistik dan koridor industri strategis di Jawa Barat bagian timur.
Di sektor maritim, Cirebon membentang dengan garis pantai panjang yang menyimpan potensi besar perikanan tangkap, budidaya, hingga olahan ekspor hasil laut.
Di ranah industri kreatif, Cirebon ditopang oleh sentra kerajinan batik Trusmi, industri rotan yang mendunia, serta ribuan UMKM kuliner dan ekonomi kreatif yang punya daya tahan tinggi menghadapi gelombang resesi.
Baca Juga:Jaga Marwah Demokrasi 2029, Bawaslu Kabupaten Cirebon Gandeng PMII ‘Kepung’ Politik UangPotensi IKA PMII Cirebon Raya Jadi Kekuatan Strategis Kemajuan Daerah, Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi
Tak kalah penting, konektivitas logistiknya terhubung sangat kuat. Akses tol lintas Jawa, kedekatan dengan Pelabuhan Patimban, serta Bandara Internasional Kertajati menjadikan wilayah ini sebagai pusat gravitasi ekonomi regional.
